Mendengar penuturan Christina Rantetana soal adanya grand desain yang ingin mencerai-beraikan Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo, cukup membuat bulu kuduk merinding. Sebagai seorang militer dan politikus, informasi itu pasti akurat. Nah, malam itu, semua yang hadir di Rumah Makan Toraja, di Jalan Bundaran PU, Oebufu-Kupang, sepakat bahwasanya, SDM orang Toraja tidak perlu diragukan lagi. Karena itu, Rantetana minta agar masalah di Toraja harus diselesaikan secara elegan. Tak perlu ada dikotomi Utara-Selatan.
ROBERT KADANG, Kupang
ANDAI saja Laksamana Pertama TNI-AL Christina Maria Rantetana tidak dalam kapasitas kunjungan kerja di Lantamal VII Kupang, mungkin pertemuan di Rumah Makan Toraja milik Aris Lambe, Kamis malam lalu (13/9), bisa sampai larut malam. Rupanya, sharing pengalaman dengan seorang jenderal, sangatlah mengasyikkan. Ini terlihat, dari paparan Ibu Rantetana yang tetap semangat menjawab pertanyaan sejumlah tokoh Toraja Kupang, yang hadir malam itu.
Tidak ada intrik untuk mengukur sejauhmana pengetahuan dan kemampuan Ibu Rantetana, terkait problem yang membelit sosial kemasyarakatan di Tana Toraja saat ini. Semua berangkat dari kepedulian warga Toraja yang ada di perantauan, khususnya yang ada di Nusa Tenggara Timur, tentang nasib kampung halamannya ke depan.
Ada fenomena menarik di Toraja saat ini. Kue te'tekan bukan lagi orang Toraja yang jual. Rata-rata pemilik kios bukan lagi orang Toraja. Becak berseliweran di jalan. Lahan-lahan yang mestinya untuk peninggalan anak cucu, sudah berbalik nama.
Kondisi geografis Tana Toraja yang sejak dulu adalah areal persawahan dan pertanian lainnya, kini diisukan mengandung bahan mineral yang potensial untuk ditambang. Ini fenomena yang sangat krusial, yang jika tidak segera diantisipasi, akan menyulitkan di masa mendatang.
Wacana itu mengemuka, manakala sesi tanya-jawab dibuka. Tokoh Toraja seperti Yohanis Rante Lembang, Boni Marasin, Thomas Bangke, Simon Sudin, Aris Lambe, Bartho Pasangka, Agus Sampe Allo, Daud Mangesa, Dasliati Palloan, dan Yuliana Solosso, sepertinya tak mau unek-unek masalah Toraja terus mengganjal.
Mereka berharap segera ada solusi, demi keberlangsungan hidup masyarakat Toraja yang harmonis. Sebagai seorang politikus dan militer, Ibu Rantetana paham betul kegalauan hati warga Toraja yang ada di Kupang itu.
Hanya saja, kata dia, seringkali pemerintah dan tokoh masyarakat yang tinggal di Toraja, menganggap remeh masalah ini. "Mereka sering dengan entengnya bilang, na kamu bang ri tu jo perantauan mareko.
Tae apa-apa in de te'e. Padahal, yang bisa mengetahui kondisi Tana Toraja dari luar, ya kita-kita ini yang ada di perantauan. Tapi sudahlah, kita harus tetap arif dan bijak menyelesaikan persoalan di Tana Toraja. Cara-cara yang cerdas dan elegan harus tetap dikedepankan. Jangan ada dikotomi Utara-Selatan," imbuh Laksamana Pertama, Christina Maria Rantetana. (bersambung)
|