Mengenang Tana Toraja nun jauh di sana, kini tak perlu membawa angan-angan untuk sampai ke sana. Cukup dengan mampir di Rumah Makan Toraja milik Aris Lambe, di Jalan Bundaran PU (TDM V), Oebufu-Kupang, kita sudah bisa mengobrol (ullelean) tentang Tana Toraja. Obrolan makin seru, karena ada sajian menu khas Toraja, plus ornamen bercirikan Toraja. Kamis, (13/9) malam lalu, perbincangan soal Toraja sedikit special, karena dihadiri Laksamana Pertama, Christina Rantetana. Berikut Ullelean Toraya malam itu.
ROBERT KADANG, Kupang
DALAM kunjungan kerjanya pekan lalu ke Lantamal VII Kupang, Christina Maria Rantetana, jenderal wanita pertama TNI AL menyempatkan diri silaturahmi dengan warga Toraja, di Rumah Makan Toraja-Kupang.
Banyak hal tentang Toraja, menjadi perbincangan menarik malam itu. Pertemuan tersebut makin bermakna, karena sang jenderal dijamu makan malam dengan menu pa'piong bulunangko dan pa'piong burak. Wah, mammi liu, kata wanita kelahiran Tana Toraja, 24 Juli 1955, malam itu.
Sebagai satu-satunya wanita yang menyandang bintang di pundaknya, Laksamana Pertama Christina Maria Rantetana, ternyata tetap tampil elegan dan tetap mengedepankan artibut sebagai wanita Toraja. Ya, Christina yang saat ini bertugas sebagai Staf Ahli Menkopolhukam Bidang Ideologi dan Konstitusi, dalam kesehariannya tak pernah meninggalkan kodratnya sebagai wanita Toraja.
Dalam setiap kesempatan di luar jam dinas, Christina selalu berpakaian Toraja. Bahkan untuk menunjukkan eksistensinya sebagai wanita yang berasal dari pengunungan Toraja, ibu lima anak ini hanya menuliskan C.M Rantetana di papan namanya. Karena itu pula, dilingkup TNI AL, Master of Public Health, lulusan Tulane University, New Orleans, ini, lebih akrab disapa Ibu Rantetana.
"Lima anak saya, namanya juga saya ambil dari bahasa Toraja. Yang pertama namanya Belo, kedua Mada', ketiga Lam'be, keempat Rinding dan kelima Potolong Birana," ungkap istri Ir. Cosmas S Birana, MS, itu. Menurut mantan anggota DPR-RI (1997-1999 dan Sekretaris Fraksi TNI/Polri 1999-2004), perlu ada ruang untuk mengkomunikasikan Tana Toraja dengan berbagai problematikanya.
"Ada grand desain yang perlu kita waspadai, tapi pemimpin di Tana Toraja sepertinya kurang sigap menanggapi. Perlu ruang untuk mengkomunikasikan hal ini dengan para pemimpin di Toraja, sehingga ada upaya untuk tetap menjaga keutuhan Tana Toraja," ujar Christina yang resmi berbintang satu sejak 1 November 2002 melalui Keppres No. 58/TNI/2002.
Wajar, jika wanita yang lahir dan besar di lingkungan pegunungan Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), tapi kini menjadi perempuan pertama yang menyandang pangkat Laksamana di jajaran TNI AL, gusar dengan kondisi yang terjadi di kampung halamannya, saat ini. Selain ada grand desain yang ingin menghancurkan Toraja, Christina yang menjadi perempuan kedua perwira tinggi militer di Indonesia ini, juga mensinyalemen adanya pembusukan dari dalam.
Peredaran narkoba dikalangan kawula muda di Tana Toraja saat ini, kata Christina, sudah pada taraf mengkhawatirkan. Ironisnya, kata Christina yang punya pengalaman tugas luar negeri seperti di Amerika, Australia, Thailand, Filipina, Swedia, Inggris, Italia, Mongolia, India, Singapura dan Nepal, ini, keterlibatan anak muda di Toraja mengkonsumsi narkoba karena ajakan para pejabat. "Ya, informasinya seperti itu.
Pejabat di Toraja banyak yang mengajak anak muda ke kafe-kafe sambil mengkonsumsi narkoba. Ini kan pembusukan dari dalam namanya," ketus Christina. (bersambung)
|