Rubrik Berita
Dr. Klenik
| + |
Frans atau Esthon |
| - |
Nasibmu di tangan rakyat NTT |
| + |
|
| - |
|
| + |
Tokoh Agama: Pilih Sesuai Hati Nurani |
| - |
Kalau pimpinan agama doa kan siapa? |
|
OPINI
|
Senin, 30 Jul 2012, | 221
Jangan Janji di Atas Ingkar
|
|
|
Seutas Refleksi Menyambut Pelantikan Paket SALAM
Pdt. Deazsy A.Tatengkeng
Pendeta di GMIT Imanuel Batukadera-Klasis Kota Kupang
BINTANG Indonesian Idol seperti Regina, Sean dan Igo tentu tidak asing lagi bagi kita. Apalagi mereka telah hadir menghibur masyarakat kota Kupang dengan menyanyikan lagu-lagu cantik di arena pameran Fatululi pada Sabtu, 21 Juli 2012 pekan yang lalu dalam rangka perayaan HUT Emas Bank NTT. Salah satu lagu yang dibawakan Regina berjudul “Ternyata Aku Makin Cinta” sebuah tembang lawas yang pernah dipopulerkan oleh Vina Panduwinata.
Mungkin masih teringat jelas di telinga para pendengar. Bagaimana dengan lagu “Merpati Tak Pernah Ingkar Janji” yang pernah dipopulerkan Paramitha Rusady dan sempat hits di era tahun 1990-an? Apakah ada di antara kita yang tahu lagu ini?
Yang menarik bagi saya adalah judul lagunya cukup unik. Pasti ada alasan dari penulis lagu dengan judul tersebut. Salah satu kemungkinan yang ada di benak saya adalah kenapa merpati dan bukan binatang yang lainnya?
Apakah merpati binatang yang benar-benar punya ciri khas “binatang yang tepati janji?”. Wah..wah..berarti sebagai manusia hati saya terusik. Meskipun lagu di atas hanyalah sebuah kiasan, tapi saya coba renungkan: kalau merpati (binatang) bisa tepati janji, lalu bagaimana dengan manusia?
“JANJI”, sebuah kata yang mudah sekali diucapkan, tapi sulit untuk dilakukan. Kau yang berjanji, kau yang mengingkari. Kecendrungan manusia adalah “hobby ingkar janji” dibandingkan dengan menepatinya. Buktinya, dapat dilihat dalam kehidupan keseharian kita. Janji para wakil rakyat: sewaktu belum duduk di kursi parlemen, perjuangan untuk dapatkan kursi digandeng dengan perjuangan untuk bersuara keras mengucapkan sederet janji untuk rakyat. Namun apa yang terjadi setelah duduk di kursi kehormatan dengan jabatan terhormat?
Para wakil rakyat yang tadi berjanji tiba-tiba mengalami “amnesia janji saat jabatan sudah didapatkan” lupa pernah berjanji. Bahkan yang lebih lagi: ada yang sudah nyaman duduk di kursi dan merasa tidak nyaman ketika harus turun dari kursi. Sungguh menyedihkan.
Lebih ironisnya lagi, banyak pasangan suami istri yang alami “amnesia janji pernikahan” saat dalam menjalani kehidupan rumah tangga, mulai hadir PIL/WIL. Janji nikah yang dulu serius diucapkan, juga serius dilupakan karena ego dan kesenangan diri. Dan masih banyak contoh lainnya.
Manusia seakan terkena virus “amnesia janji”. Virus ini menggerogoti karakter manusia sehingga menimbulkan penyakit “asal beta senang”, tidak peduli apa kata orang. Kita cendrung lupa janji yang diucapkan. Dalam hitungan detikpun janji bisa cepat dilupakan. Tapi tidak begitu dengan Tuhan Allah kita. Tuhan Allah selalu ingat janji yang diucapkan kepada umat ciptaanNya.
Baik atau tidak baik waktunya. Di masa lalu, kini dan di masa depan. Dari generasi terdahulu, sekarang dan yang akan datang, janji itu tetap berlaku. Alkitab mencatat dengan jelas berbagai nubuatan dalam Perjanjian Lama (PL) yang digenapi dalam Perjanjian Baru (PB) termasuk karya penyelamatan dalam Yesus Kristus.
Apa yang dibaca dan direnungkan dalam II Samuel 7:1-17 memberikan bukti bahwa ada janji yang diucapkan Tuhan kepada Daud dan keturunannya. Daud adalah seorang raja yang selalu mengandalkan Tuhan. Dalam hati dan hidupnya, ia sungguh merasakan penyertaan dan pemeliharaan Tuhan.
Dalam kesadaran akan kehadiran Tuhan, Daud memiliki kerinduan untuk menyenangkan hati Tuhan. Ia berniat membangun rumah bagi Tuhan. Ide ini didukung oleh sahabatnya Natan. Namun sebelum niatnya dilaksanakan Tuhan memberi penglihatan kepada Natan bahwa Tuhan menolak dibuatkan rumah, tapi justru Tuhan berinisiatif untuk memberikan rumah bagi Daud dalam arti yang lebih luas dan dalam. Tuhan berjanji memberikan Daud keturunan yang kokoh. Janji Tuhan adalah berkenaan dengan hidup Daud dan keturunannya akan diberkati. Luar biasa khan?
Lebih hebatnya lagi, bahwa apa yang diucapkan Tuhan kepada Daud dipenuhi. Jelas disaksikan dalam Alkitab bahwa keturunan Daud tetap menduduki Kerajaan Israel dan Kristus Sang Juruslamat kita lahir dari keturunan Daud. Tuhan tidak saja berjanji, tapi menggenapi janji-Nya.
Daud dan keturunanya diberkati. Siapa yang tidak ingin hidupnya diberkati Tuhan? Pribadi, keluarga, pekerjaan, kota, propinsi dan negaranya diberkati? Semua kita pasti mau diberkati. Tidak ada seorangpun yang ingin hidupnya berada di bawah kutuk. Pertanyaan reflektifnya: “Jikalau Daud sedemikian diberkati oleh Tuhan, bagaimana dengan kita? Adakah cara yang dapat ditempuh agar kita dapat ambil bagian dalam janji dan berkat Tuhan?
1. Miliki “kerinduan senangkan hati Tuhan”
Tiap hari kita punya niat senangkan hati orang-orang di sekeliling kita. Entah itu suami, istri, orangtua, anak-anak, teman sekerja, sahabat dan tetangga kita. Kita tidak ingin melihat mereka bersedih, menangis, atapun terluka karena kata-kata dan sikap kita. Apapun akan kita lakukan asalkan hati orang tersebut bahagia.
Itu benar. Kalau kita memiliki waktu untuk senangkan hati orang-orang di sekitar kita, mungkinkah dalam kehidupan iman kita memiliki kerinduan untuk menyenangkan hati Tuhan? Daud memberi teladan. Ia memberi yang terbaik bagi Tuhan, hidup dalam ketaatan dan cara hidupnya menyentuh hati Tuhan. Adakah cara hidup kita sudah menyentuh hati Tuhan? Tidak saja menyentuh hati manusia?
2. Yakin akan kuasa dan penyertaan Tuhan di berbagai pengalaman hidup yang dialami.
Orang yang meletakkan hidup dan karyanya dalam tangan Tuhan, tentu berbeda dengan orang yang meletakkan hidupnya dalam tangannya sendiri. Kualitas hidup dan imannya menghasilkan buah yang berbeda. Daud yakin sungguh-sungguh pada janji-janji Tuhan.
Daud meyakini bahwa dalam hidupnya tidak ada satupun janji Tuhan yang gagal. Semua ditepati. Janji pemeliharaan, janji perlindungan, janji pertolongan, janji penyertaan dan janji untuk memberkati. Daud sadar kepercaannya pada Tuhan disertai kesadaran bahwa ia dalah manusia yang terbatas sebagai ciptaan, tapi Tuhan sebagai Pencipta tidak terbatas dalam kasih dan kuasa-Nya.
Bagaimana dengan kita? Masihkah kita yakin akan janji-janji Tuhan dalam kehidupan kita? Apalagi disaat kita mengalami berbagai kesulitan dan pergumulan, biasanya janji Tuhan diuji dan iman kita yang teguh dipertaruhkan.
3. Percaya: janji Tuhan tak pernah diingkari
Ada ungkapan “janji di atas ingkar”. Manusia menjadi si tukang janji pada sesamanya sekaligus menjadi si tukang ingkar. Bagi Tuhan ini tidak berlaku. Tuhan tidak pernah sekalipun ingkar janji. C.S. Lewis pernah menulis: “Meskipun perasaan kita manusia kepada Tuhan berubah, tapi kasih setia Tuhan tetap bagi manusia”.
Di zaman sekarang ini ego dan kesenangan pribadi dan dunia membuat banyak orang hidup mengikuti kehendak pribadi dan mengabaikan kehendak dan janji Tuhan. Ada yang sibuk mencari uang, tapi tidak sibuk mencari dan mengenal Tuhan.
Ada yang sibuk dengan hobi yang menyenangkan diri sendiri seperti merokok, berjudi, selingkuh, mencuri (korupsi) yang bukan haknya dan hal-hal lainnya, tapi lupa menyenangkan hati Tuhan. Ada yang sibuk mendewakan teknologi dari pagi sampai malam, tapi tidak punya waktu untuk berdoa, membaca Alkitab dan beribadah.
Adakah kita ragu akan j anji Tuhan? Jangan pernah ragu karena Tuhan tidak pernah ingkar janji. Sebagai orang dengan kedudukan terhormat tepatilah janji untuk kesejahteraan rakyatmu. Sebagai orangtua tepatilah janji untuk masa depan keluarga dan anak-anakmu. Sebagai atasan tepatilah janjimu untuk kebahagiaan para karyawanmu.
Belajarlah menjadi umat kepunyaan Allah yang punya karakter “tukang tepati janji”. Jangan buat janji hanya di atas ingkar. Demikian juga, terhitung tanggal, 1 Agustus 2012, masyarakat kota Kupang akan memasuki babak baru dengan akan dilantiknya Jonas Salean dan Herman Man (Paket SALAM) sebagai Walikota & Wakil Walikota Kupang periode 2012-2017.
Tentunya ada begitu banyak janji politik yang telah disampaikan selama perhelatan pesta demokrasi yang dimenangkan oleh rakyat. Selama sosialisasi diri dan masa kampanye, SALAM sering mengatakan bahwa SALAM berhutang budi dan berjanji akan membalas budi kepada rakyat yang telah memilihnya.
Dan harapan besar rakyat kota Kupang, semoga SALAM tidak terjebak dalam “pemimpin yang amnesia” terhadap janji. Selamat atas pelantikan SALAM. Dan selamat menjadi pribadi yang berintegritas karena dapat menepati janji yang diucapkan. Jangan hanya janji di atas ingkar.
|
|