Rubrik Berita
Dr. Klenik
| + |
Esthon ke Sumba, Frans di Kupang |
| - |
Anak Timor dan Anak Adonara Tetap Fren |
| + |
|
| - |
|
| + |
Apoteker Ancam Mogok Kerja |
| - |
Kalau Manejemen Sakit Mana Bisa Urus Orang Sakit |
|
KUPANG METRO
|
Kamis, 28 Jun 2012, | 110
Empat Hari tidak Diangkat Sampah Berceceran di Solor
|
|
|
KUPANG, TIMEX - Sampah di jalan Cendrawasih Kelurahan Solor Kecamatan Kota Lama sudah membusuk sehingga mengeluarkan bau tidak sedap. Hal ini terjadi karena sampah tidak diangkut selama empat hari dan telah berceceran di luar TPS.
Maksi Naimen, salah seorang juru parkir di jalan Cendrawasih kepada Timor Express, Kamis (27/6) mengatakan, volume sampah di pertokoan Kelurahan Solor melebihi kapasitas tempat pembuangan sementara (TPS) yang disediakan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Kupang.
Sehingga, terkadang masyarakat membuang sampah di luar TPS karena TPS sudah penuh. Hal tersebut diperparah lagi dengan perilaku pemulung. Pasalnya, sampah yang sudah dibungkus masyarakat dan diletakan di TPS, pemulung mengobrak-abrik, maka sampah yang sudah dikumpulkan berceceran.
"Pemulung datang bongkar lagi sampah yang sudah dibungkus oleh masyarakat, sehingga sampah jadi berantakan. Jadi angin tiup sampah berhamburan ke jalan raya, sehingga saat mobil kebersihan datang tidak bisa angkut semua," urai Maksi.
Untuk mengantisipasi agar sampah di Kelurahan Solor tidak berceceran, sebaiknya pemerintah kelurahan menertibkan para pemulung. Karena, selama ini persoalan sampah yang terjadi di Kelurahan Solor adalah ulah pemulung.
"Kalau bisa pemerintah kelurahan menempatkan orang untuk mengawasi TPS, supaya pemulung jangan datang untuk bongkar sampah. Atau pemerintah berupaya bagaimana sehingga pemulung jangan bongkar sampah yang sudah dikumpulkan," kata dia.
Akibat sampah yang berceceran hingga ke jalan raya mengakibatkan kondisi di jalan Cendrawasih sangat kumuh. Karena sampah sudah membusuk, maka aroma di sekitar TPS sangat tidak sedap. Karena sampah sudah membludak di TPS, maka terkadang masyarakat membakar, sehingga sangat rawan terjadi kebakaran.
"Kalau kita berdiri di bagian barat sana, angin tiup datang mau muntah, karena sampah sudah busuk. Kadang sampah sudah terlalu banyak, masyarakat bakar dan saya yang sering ambil air untuk siram kasih mati," pungkas Maksi. (mg14/ays)
|
|