AMBON,Timex- Perairan Maluku kembali menelan korban. KM Putri Ayu yang berangkat dari pelabuhan Slamet Riyadi, Ambon menuju Waitawa, Kabupaten Buru Selatan dinyatakan hilang, Minggu (17/6) dini hari sekira pukul 02.00 WIT. Lokasi musibah masih simpang siur.
Tetapi diperkirakan di Tanjung Tapi, atau perairan Pulau Tiga, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Dari 27 penumpang terdaftar, satu orang diinformasikan tewas, 14 lainnya selamat.
Namun korban kapal motor berkapasitas 84 GT atau 50 ton ini, diperkirakan mencapai puluhan orang. Berdasarkan informasi yang dihimpun Ambon Ekspres, sebelum kapal bertolak ke pelabuhan tujuan, penumpang hampir mencapai 100 orang. Kapal juga mengangkut muatan campuran sembako, bahan bangunan, besi, pipa besi dan semen untuk proyek jembatan dan air bersih di Bursel.
Satu penumpang ditemukan meninggal, di sekitar perairan Tanjung Allang. Indentitas korban belum diketahui hingga berita ini naik cetak. Penumpang selamat ditemukan terpisah, di perairan Desa Ureng dan pulau Tiga, kecamatan Leihitu, sekira pukul 07.00 WIT. Hingga kini tim SAR didukung Adpel Ambon dan KPPP Yos Sudarso masih melanjutkan pencarian untuk mengevakuasi korban hilang.
Tiga penumpang selamat, Harmin Wael (20) dan Yusuf Souwakul (16) dan Fatima Latuconsina (16) Minggu malam telah dievakuasi ke ruang UGD RSUD dr Haulussy. Harmin dan Yusuf mengalami luka cukup parah, di bagian paha dan tumit, diduga akibat gigitan ikan jenis tertentu.
Terkait kronologis musibah KM Putri Ayu, beberapa keluarga mengaku sempat berkomunikasi dengan keluarga mereka yang menjadi korban melalui telepon selluler sebelum kapal yang ditumpangi mengalami musibah. "Ade tolong cari bantuan dolo," teriak Firdaus Souwakil (36) melalui telepon selulernya kepada Syahril Souwakul.
Disusul teriakan Firdaus kedua kali, "Tolong-tolong cari bantuan jua, Laa ilaha Illallah..," teriak Firdaus lagi untuk kedua kali. "Lalu kontak putus, seng dengar apa-apa lagi, beta juga seng sempat tanya dia (Firdaus) posisi kapal dimana," terang Syahril kepada Ambon Ekspres ditemui di pelabuhan Slamet Riady, kemarin.
Juga terungkap dari percakapan per telepon, kalau sekira pukul 01.30 WIT KM Putri Ayu sudah diterpa badai, ombak disertai hujan dan angin kencang. Tak lama kemudian, mesin kapal mati, lampu padam, dan alkon (pompa air) tidak berfungsi.
Di saat yang genting itu, ABK berusaha membuang muatan ke laut dari palka tetapi tidak mampu. KM Putri Ayu oleng, setelah itu tenggelam dengan cepat. "Banyak yang terjebak dalam kapal dalam keadaan tidur," ungkap salah satu keluarga korban mengutip keterangan korban yang selamat.
Kabid KPLP Benny Manuputty menjelaskan, sesuai manifes, jumlah penumpang hanya 27 orang. Manuputty berdalih Adpel tidak mungkin memberangkatkan KM Putri Ayu kalau terjadi over kapasitas. "Petugas kita yang kasih berangkat, saya berpegang pada manifes, bahwa 27 orang, kalau lebih, itu urusan polisi," elaknya ketika didesak lalai melakukan pengawasan.
Begitu pula muatan, KM Putri Ayu, katanya, tidak melebihi kapasitas. Malam itu kapal hanya membawa barang campuran seberat 39 ton yang terdiri dari, beras, semen, pipa besi dan bahan sembako lainnya. Sementara kapal memiliki kapasitas hingga 50 ton.
Kata Manuputty, ketika kapal keluar pelabuhan cuaca sedang baik. "Tidak ada warning, cuaca bagus, tetapi setelah berangkat tiba-tiba cuaca berobah mau salahkan siapa. Kecuali ada warning, kita kasih berangkat itu baru salah," ujarnya.
Ironisnya Manuputty mengaku, informasi KM Putri Ayu mengalami musibah diperoleh dari keluarga korban yang menelpon ke Adpel, bukan melalui radio komunikasi dari KM Putri Ayu. "Laporan dari penumpang ke keluarga, lantas keluarga telepon ke sini (Adpel), kita dapat info antara jam 2-3 dini hari tiga begitu," terangnya.
Pantauan Ambon Ekspres, beberapa keluarga mendatangi pelabuhan Slamet Riyadi, Kantor KPPP Yos Sudarso dan Kantor Adpel, mencari informasi keberadaan para korban. Sebagian lagi memasukkan data diri korban kepada petugas Disarter Victim Indentification (DVI) Dokkes Polda Maluku.
"Ini minta data korban dari keluarga terdekat, biar mudah mencocokkan, kalau korban ditemukan ternyata cocok dengan data-data ini, kita serahkan korban ke pihak keluarga," ungkapa sala satu petugas DVI Dokkes Polda Maluku. Data-data yang diminta misalnya, baju dan celana yang dikenakan, hingga ciri-ciri fisik korban, seperti gigi, bentuk bibir, telinga, mata hidung dan sebagainya.
Sementara itu anggota DPRD Kabupaten Bursel, Thaib Souwakil menyesalkan terjadinya musibah transportasi laut yang sudah berulangkali terjadi. Souwakil menyebutkan, Adpel Ambon dan instansi terkait lainya tidak boleh lepas tangan dari tanggungjawab.
Menurut dia, tupoksi Adpel dan instansi terkait menghindarkan terjadinya kecelakaan laut. "Informasi yang saya dapat dari masyarakat kapal muat lebih dari kapasitas, dan kita lihat KM Putri Ayu tidak layak. Kasus seperti ini bukan yang pertama," kata politisi PAN Bursel itu.
Tokoh pemuda Bursel Farid Souwakil meminta pertanggungjawaban Adpel Ambon. Menurut dia, pihak syahbandar lalai menjalankan tugas. "Jangan lihat penumpangnya saja berapa, tetapi muatannya juga, saya menduga muatan juga over kapasitas," ujarnya.
Dia menyesalkan Adpel tidak mampu memastikan kelayakan KM Putri Ayu berangkat malam itu. Farid meminta Pemda Provinsi Maluku dan Pemkab Bursel bertanggungjawab, karena lalai menyediakan kapal yang layak bagi masyarakat Bursel. "Bukan baru kasus seperti ini, laut kita rawan, apalagi di musim timur begini, tetapi kenapa KM Putri Ayu? karena masyarakat tidak punya pilihan," katanya.(cr7/jpnn/rum)
Penumpang Selamat
1.Firdaus Souwakil
2.Nawawi Laisouw
3.Asad Bahta
4.Fadli Suatrat
5.Asri Lakbual
6.La Imin
7.Warlon
8.Harmin Wael
9.Yusuf Souwakil
10.Palhan
11. Armin Waeli
12. Fatima Latuconsina
13. Abdul Lain
14. Marwoto
|