KUPANG, Timex--Provinsi NTT mempunyai aneka budaya dan adat istiadat. Budaya ini menjadi ciri khas masing-masing kerajaan. Di NTT terdapat banyak wilayah kerajaan yang hingga saat ini menjadi bagian dari sejarah.
Untuk melestarikan budaya-budaya yang terancam punah ini, dibutuhkan keterlibatan semua pihak. Tak hanya pemerintah, seluruh elemen masyarakat perlu dilibatkan. Tidak terkecuali para pewaris takhta kerajaan se-NTT.
Rabu (28/7) kemarin, untuk pertama kalinya di NTT, digelar silaturahmi raja-raja se-NTT. Kegiatan akbar ini dilakukan atas kerjasama Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bali, NTB dan NTT dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTT. Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan budaya daerah NTT sebagai sebuah potensi yang bernilai historis.
Acara akbar ini dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur NTT, Esthon Foenay di Sonaf Nisnoni (Istana Raja Kupang). Selain Raja Kupang, Leopold Nikolas Nisnoni, turut hadir Raja Nesi Nope (Kerajaan Niki-Niki), Simon Oematan (Raja Mollo), Mikael Bria (Raja Wewiku) dan Raja Gidion Amabi (Raja Amabi).
Forum silaturahmi ini dirangkai dengan dialog bersama para pakar sejarah dan antropolog, yakni Frans Bustan, Hendrik Ataupah, Pendeta Eben Nuban Timo dan Herman Seran. Selain itu, salah satu narasumber lainnya, yakni I Made Purna dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bali, NTB dan NTT Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Wakil Gubernur NTT Esthon Feonay, saat membuka kegiatan tersebut, mengatakan, forum raja-raja se-NTT tersebut tidak menciptakan kolonialisme baru, tetap bersatu untuk melestarikan budaya-budaya NTT. Salah satu tujuannya, kata Esthon, yakni saling tukar menukar informasi tentang budaya masing-masing wilayah kerajaan di NTT. "Sayangnya yang hadir di sini hanya dari empat kabupaten, yaitu Belu, TTS, Kabupaten Kupang dan Kota Kupang.
Yang lain belum berpartisipasi," kata Esthon. Namun, dia meyakinkan para peserta bahwa forum tersebut akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk anak cucu di daerah ini.
Wagub Esthon Foenay malahan meminta agar hasil dialog dari forum ini akan berujung pada kesepakatan memasukkan budaya NTT ke dalam mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok). Dengan begitu, katanya, anak-anak NTT sejak kecil sudah mengetahui budaya NTT.
"Kita harus menyiapkan sejak sekarang, karena setiap detik selalu terjadi perubahan, sehingga jangan sampai anak cucu kita tidak lagi mengetahui budaya dan adat istiadat," katanya.
Sebab, menurut Wagub, budaya menjadi salah satu daya dorong bagi kebanggaan terhadap NTT. Oleh karena itu, untuk memajukan budaya NTT perlu ada kekompakan dan persahabatan. Forum silaturahmi raja-raja se-NTT menjadi ajang menjalin kekompakan.
Tak lupa Wagub juga mengingatkan, bahwa para raja merupakan pemimpin rakyat yang membawahi ribuan rakyat. Oleh karena itu, dia meminta agar raja harus dekat dengan rakyatnya. Salah satunya untuk mendorong kerja keras rakyatnya untuk bekerja membangun daerah ini. "Karena ada rakyat baru ada raja. Sehingga raja harus ada bersama-sama rakyat. Dan tentunya program-program pemerintah pun turut didukung dan ada sinergi, sehingga daerah ini bisa terjadi perubahan," kata Wagub kemarin.
Dalam dialog, Hendrik Ataupah, salah satu pakar sejarah NTT, menjelaskan, kebudayaan perlahan mulai luntur. Hal ini disebabkan masyarakat tidak punya rasa memiliki terhadap kebudayaan, padahal kita kaya dengan budaya. "Oleh karena itu, pemerintah dan semua elemen perlu bekerjasama membangunkan kembali kebudayaan ini," ungkap Hendrik.
Dia juga mengatakan, Kota Kupang terus mengalami ledakan penduduk, ternyata belum mempunyai pusat wisata kebudayaan. Padahal, menurutnya, Kota Kupang menyimpan potensi budaya dan wisata yang cukup besar. "Ini yang belum terpikirkan, padahal lihat saja bahwa penduduk semakin bertambah sementara tidak ada tempat khusus sebagai pusat wisata dan budaya. Maka lama-kelamaan manusia di kota ini sudah tidak punya budaya lagi, maka kehidupan akan hambar," urai Hendrik.
Pendapat serupa juga diungkapkan Pendeta Eben Nuban Timo. Menurut Ketua Majelis Sinode GMIT ini, budaya adalah darah dari suatu masyarakat. Jika budaya itu hilang, maka perlahan masyarakat itu juga akan mati dalam arti tidak lagi punya identitas dan jati diri. Dia juga mengatakan, bahwa saat ini masyarakat perlahan meninggalkan budaya.
Ini dikarenakan, masyarakat yang punya budaya sendiri tidak kreatif. masyarakat tidak lagi melestarikan nilai-nilai budayanya. "Mereka tidak berpikir ke masa depan. Dan mudah terpengaruh oleh perubahan-perubahan yang terjadi saat ini. Maka lama-kelamaan kebudayaan dan adat istiadat kita mulai hilang jika tidak kita rubah cara melestarikannya sejak saat ini," tandasnya.
Peserta Sail Indonesia Tiba di Kupang
Sementara itu, salah satu kegiatan akbar yang sedang digelar di Kota Kupang, yakni Sail Indonesia 2010. Rabu kemarin, setidaknya 260 peserta Sail Indonesia 2010 tiba di Kupang. Peserta yang berasal dari 15 negara di dunia ini melakukan start sejak Sabtu (24/7) di Darwin, Australia.
Tadi malam, para peserta secara resmi diterima Sekretaris Daerah NTT, Frans Salem, mewakili Gubernur NTT Frans Lebu Raya, di Taman SubaSuka. Ratusan peserta ini disambut tarian dan hiburan lagu-lagu daerah. Selain Sekda NTT, hadir jajaran Muspida tingkat Provinsi NTT, Kabupaten Kupang dan Kota Kupang.
Acara Gala Dinner tadi malam berlangsung meriah dengan aneka hiburan. Pada acar penyambutan itu, para peserta mendapat cinderamata berupa selendang khas daerah NTT. Cinderamata itu diberikan langsung oleh para petinggi instansi pemerintah Provinsi NTT dan Kota Kupang.
Turut hadir dalam acara penyambutan itu, Direktur Yayasan Cinta Bahari Indonesia, Raymond Lesmana. Untuk diketahui, tahun ini merupakan tahun ke-7 Yayasan Cinta bahari Indonesia menyelenggaran ajang akbar Sail Indonesia. Bahkan, tahun ini, dibuka rute baru, yakni menyinggahi Kabupaten Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Timur dan Sumba Barat Daya.
Raymond mengatakan, Pemerintah NTT belum memanfaatkan potensi bahari yang cukup besar ini. Padahal, menurutnya, sebagian besar wilayah NTT adalah laut.
Dikatakan, saat ini kesulitan yang dialami adalah terkait regulasi. Hal ini menjadi salah satu kelemahan dari Dinas Pariwisata yang tidak mengamati regulasi bahari Indonesia. Menurutnya, Pemerintah Daerah NTT harus membentuk tim khusus untuk mengkaji regulasi bahari Indonesia.
Selain itu, saat ini di Indonesia pun belum ada pelabuhan wisata, sehingga kapal-kapal yang mengikuti rally Sail Indonesia tidak berlabuh di Indonesia saat off season, tapi malah berlabuh di Malaysia. "Kita tidak ambil keuntungan ini dengan membuat pelabuhan wisata. Justru Malaysia yang untung, karena kapal-kapal semuanya dilabuhkan di sana," kata Raymond yang menargetkan peserta Sail Indonesia harus mencapai 3.000 kapal nanti. (sam)
|