Rubrik Berita
Dr. Klenik
| + |
DPD Desak Kemhut Surati Gubernur |
| - |
Sekali-kali Dipaksa Boleh Dong |
| + |
YMTM Terima Equator Prize |
| - |
Yang Lain Cuma Eksploitasi Kemiskinan |
| + |
Warga Dideadline Lima Hari |
| - |
Begitulah Nasib Orang Kecil |
|
RAKYAT SUROSA
|
Rabu, 28 Jul 2010, | 133
Ajari Lima Ungkap Sejarah Rote
|
|
|
KUPANG, Timex--Arung Sejarah Bahari (Ajari) Lima 2010 mengungkap sejarah dengan mengunjungi lokasi peradaban raja Thie Kelima, Foe Mbura, Selasa (27/7) kemarin di desa Oebou kecamatan Rote Barat Daya Kabupaten Rote Ndao.
Kegiatan yang diikuti sekira 100 peserta itu diselenggarakan oleh Direktorat Geografi Sejarah, Direktorak Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI.
Dalam kunjungan yang didampingi Direktur Geografi Sejarah, Endjat Djaenuderadjat dan ahli Sejarah asal Undana, Munandjar Widiyatmika tersebut, peserta Ajari Lima mengunjungi tempat pembuatan kapal Sangga Ndolu yang dibangun Foe Mbura. Rombongan kemudian mengunjungi kuburan Foe Mbura yang berada di lokasi Istana Fiulain. Kedua tempat yang berdekatan itu kini telah ditata untuk dijadikan lokasi ziarah.
Dalam kunjungan ke lokasi pembuatan kapal Sangga Ndolu, Munandjar menjelaskan, Raja Foe Mbura memulai sejarah tahun 1729 dengan membangun sebuah kapal dengan tujuan mencari ilmu pendidikan dan agama. Dikisahkan, Foe Mbura kemudian berlayar menuju Batavia (Jakarta-red) untuk menghadap Gubernur Jenderal, Diria van Cloon dengan lama pelayaran sekira tiga bulan. Kapal yang diberi nama Sangga Ndolu (Cari Damai Red) itu ditumpangi Raja Thie ke-5, Foe Mbura, Raja Loleh, Ndara Naho, Raja Lalain dan Raja Baa, Too Donggallilo bersama 27 anak buah kapal (ABK) dengan juru mudi, Navilongi.
Menurut Munandjar, Raja Foe Mbura yang menginginkan masyarakatnya cerdas dan mengenal Tri Tunggal itu kemudian berguru selama tiga tahun di Batavia. Kemudian kembali dengan selamat di pelabuhan Oemasik yang kini dikenal dengan Sangga Ndolu dan terletak sangat dekat dengan Istana Fiulain. "Foe Mbura itu terkenal sangat gigih dan punya pikiran yang sangat luas ke depan. Sehingga ilmu yang diperolehnya selama tiga tahun kemudian diterapkan dengan membangun sekolah dan mengabarkan Injil di Rote. Dan jauh sebelum Indonesia memiliki sekolah yang layak, daerah ini telah memiliki sekolah yang bagus pada masa itu," kisah Munandjar.
Setelah menyaksikan saksi sejarah dengan tuntunan Kepala Desa Oebou, Marthen Sa'u, peserta kemudian mengunjungi tempat bersejarah yang tak kalah nilainya, yakni Rumah Raja Thie yang terletak di desa Oebafok kecamatan Rote Barat Laut. Rumah yang kini dijaga Wakil Maneleo Mburala'e, Jersy W. Messakh itu berisi benda-benda sejarah kerajaan Thie yang hingga kini masih dijaga keasliannya.
Kunjungan terakhir tersebut disambut tarian asli Rote Ndao, Kaka Musu dan Tarian Teo Renda diiringi gong dan musik sasando. Dalam acara penyambutan tersebut, dilakukan pengalungan selendang kain adat Rote serta topi Ti'i Langga kepada lima perwakilan peserta Ajari Lima. Selain itu, dilakukan penyerahan buku sejarah singkat hadirnya Injil di Pulau Rote oleh Jersy Messakh kepada Bupati Rote Ndao, Samuel Haning yang kemudian diserahkan kepada Pemimpin Rombongan, Endjat Djaenuderadjat. Sebagai rasa hormat, Endjat kemudian menyerahkan cinderamata kepada Samuel Haning yang disaksikan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Rote Ndao, Jersy W. Messakh, Waka Polres, Nyoman Widyana, Komandan Lanal, Mayor Laut Kusumastono dan peserta Ajari Lima.
Peserta Ajari juga disuguhi beberapa atraksi pembuatan tenun ikat, gula merah, gula semut, proses penganyaman topi Ti'i Langga, Sasando serta beberapa atraksi wisata lainnya. Semua atraksi yang menarik perhatian peserta Ajari Lima berlangsung di depan Rumah Raja Foe Mbura.
Kepada peserta Ajari Lima, Samuel mengatakan, Rote Ndao merupakan daerah yang baru dimekarkan selama delapan tahun namun memiliki potensi budaya yang luar biasa. Menurut Lens Haning--sapaan karibnya--walau secara geografis berada di ujung paling selatan Indonesia, namun Rote Ndao merupakan daerah yang paling dekat dengan Australia dan juga Timor Leste. Sehingga pihaknya terus berupaya membangun infrastruktur dan sarana penunjang untuk meningkatkan pembangunan di bidang pariwisata dan budaya.
"Semoga dengan kehadiran rombongan Ajari ini, sebagai bukti bagi masyarakat luas tentang kondisi daerah ini sebenarnya. Sehingga kita harapkan tidak hanya sebatas ini, tetapi kunjungan ini akan terus berlanjut," pungkas Lens Haning. (mg-9)
|
|