Rubrik Berita
Celah Timor: Apakah Itu Mimpi di Siang Bolong Oleh: P. Gregor Neonbasu SVD, PhD
Penulis adalah Ketua Komisi Sosial Budaya Dewan Riset Daerah Prop NTT, Ketua Badan Pengurus Harian YAPENKAR yang menangani UNIKA Widya Mandira Kupang, Direktur Puslit MANSE NSAE Kupang.
Dr. Klenik
| + |
DPD Desak Kemhut Surati Gubernur |
| - |
Sekali-kali Dipaksa Boleh Dong |
| + |
YMTM Terima Equator Prize |
| - |
Yang Lain Cuma Eksploitasi Kemiskinan |
| + |
Warga Dideadline Lima Hari |
| - |
Begitulah Nasib Orang Kecil |
|
RAKYAT SUROSA
|
Selasa, 27 Jul 2010, | 70
Mitan Rp 6o Ribu, Premium 25 Ribu
|
|
|
KUPANG, Timex - Baru dua minggu kapal pengangkut BBM pulang dari Kabupaten Sabu Raijua, namun masyarakat sudah kembali mengeluh mengenai kelangkaan BBM dan minyak tanah (mitan).
Saat ini, harga BBM jenis premium menyentuh level Rp 25 ribu untuk satu botol aqua besar atau setara dengan 1,5 liter. Sementara, untuk harga minyak tanah mencapai Rp 60 ribu untuk satu jerigen bimoli berukuran 5 liter.
Harga premium dan minyak tanah diperkirakan akan terus naik mengingat cuaca saat ini sementara buruk, sehingga kapal Timau yang bertugas mengangkut BBM jenis premium dan solar ke Sabu Raijua tidak bisa berlayar.
Hal ini disampaikan dua tokoh masyarakat Sabu Raijua, Lius Kana Lomi dari Sabu Barat dan Habel Miha Gili dari Sabu Timur kepada Timor Express via telepon selular dari Sabu Raijua.
Lius menjelaskan, meroketnya harga minyak tanah di Sabu Raijua disebabkan beberapa faktor seperti banyaknya permintaan masyarakat terhadap minyak tanah sebagai bahan bakar untuk penerangan di malam hari bagi daerah yang belum tersentuh listrik. Sementara, kapal Timau yang bertugas mengangkut BBM jarang mengangkut minyak tanah ke Sabu Raijua.
"Yang menjadi persoalan adalah 80 persen masyarakat Sabu Raijua masih menggunakan minyak tanah sebagai bahan bagi penerangan di malam hari. Karena mereka tidak tersentuh listrik. Kalaupun ada PLTS, itu tidak terlalu banyak sehingga minyak tanah merupakan suatu kebutuhan vital bagi masyarakat di Sabu.
Di Kecamatan Raijua saja disanakan belum ada PLN, sehingga bagi yang punya genset bisa pakai, tapi bagi yang tidak, mereka harus pakai minyak tanah untuk penerangan malam hari. Ini perlu disikapi oleh pemerintah. Kalau tidak, maka masyarakat akan kegelapan sepanjang malam," ujar Lius.
Dikatakan, minyak tanah di Sabu Raijua biasanya hanya dibawa oleh penumpang secara sembunyi-sembunyi lewat penyeberangan feri dan ketika kapal tidak lagi berlayar, maka minyak tanah cepat menjadi barang langka. Sementara, untuk harga premium hingga, Senin (26/7) kemarin sudah mencapai level Rp 25 ribu untuk satu botol aqua besar.
Masyarakat juga tidak bisa berharap banyak pada agen di Sabu Raijua, sebab stok di APMS atau agen resmi dari Pertamina sudah habis, sehingga kalaupun ada pengecer atau masyarakat yang menjualnya, maka harganya sudah mencekik leher.
"Coba bayangkan, jatah premium kita di Sabu untuk satu kali angkut oleh kapal Timau 500 drum. Tapi yang terjadi di Sabu para pengecer hanya menjual bensinnya sekitar dua hari kemudian bilang bensin habis. Jadi masyarakat ramai-ramai pergi mengisinya di agen.
Itu juga paling bertahan dua minggu stoknya sudah langsung habis. Kalau di kota Seba saja sudah demikian, apalgi di tempat lain di Sabu Raijua, pasti lebih parah lagi. Anehnya, pemerintah hanya berwacana untuk merazia pengecer yang nakal untuk menimbun, tapi tidak pernah ada bukti nyata di lapangan mereka melakukan razia. Sehingga, kita berpikir bahwa mereka juga mungkin ada bermain dengan kondisi BBM di Sabu Raijua,” tegas Lius.
Hal senada diungkapkan tokoh masyarakat Sabu Timur, Habel Miha Gili yang menghubungi Timor Express mengatakan, kelangkaan minyak tanah sangat memprihatinkan. Sebab, sebagai masyarakat yang hanya mengharapkan minyak tanah sebagai media penerangan di malam hari harus kegelapan karena memang minyak tanah sudah tidak ada lagi di Sabu. Imbasnya, anak-anak sekolah yang mau belajar di malam hari sudah tidak bisa, sehingga harus belajar pada sore hari ketika masih terang.
"Kasihan kita punya anak-anak yang masih sekolah, mereka mau belajar malam atau mau kerja pekerjaan rumah sudah tidak bisa lagi karena kita tidak ada minyak tanah lagi untuk pasang pelita. Kalau masyarakat yang ada listrik, ya tidak masalah karena mereka tidak kesulitan kalau malam hari. Kalau hanya sekedar untuk masak, mereka masih bisa pakai kayu api. Nah, apa kita juga pakai kayu api buat penerangan malam hari di dalam rumah? Kan tidak mungkin," ujar Habel. (kr9)
|
|