KUPANG, Timex- Harga sejumlah kebutuhan pokok yang naik gila-gilaan, ternyata di mata pemerintah NTT masih dinilai wajar. Bahkan, masyarakat diminta untuk tidak merespon secara berlebihan, sehingga hal itu tidak dimanfaatkan para pelaku usaha.
Penegasan tersebut disampaikan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, usai memimpin rapat dengan Tim Pemantan dan Pengendali Inflasi Daerah (TPID), di ruang kerja gubernur, Senin (26/7). Gubernur mengatakan, kenaikan harga tersebut sifatnya temporer (sementara), sehingga masyarakat tidak perlu panik. "Kenaikan ini sifatnya temporer, sehingga masyarakat tidak perlu panik.
Tidak perlu direspon secara berlebihan, sehingga peluang itu tidak dimanfaatkan para pelaku usaha," kata Frans Lebu Raya yang kemarin didampingi Pemimpin Bank Indonesia (BI) Kupang, Lukdir Gultom dan Kadivre Bulog NTT, Marwan Lintang.
Pemicu kenaikan harga itu sendiri, tambah gubernur, dikarenakan beberapa sentra produksi seperti Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan, mengalami gagal panen dan rusaknya sejumlah tanaman komiditi di ketiga daerah pemasok itu. "Kita juga terus memantau perkembangan harga, khususnya di Kota Kupang. Dan, sesuai data yang kami terima dari TIPD, tren kenaikkan harga tersebut mulai turun," tambah Frans. Dikatakan Frans, untuk terus memantau pergerakan harga di daerah ini, maka TPID akan mengefektifkan pemantauan harga hingga ketersediaan stok barang, setiap minggu dan per bulan.
"Nantinya, laporan hasil pemantauan itu akan dipublikasikan, sehingga bisa diketahui publik," ujar Frans. Selain itu, lanjut gubernur, TPID juga akan mempercepat mekanisme pelaksanaan operasi pasar (OP). Bila sebelumnya OP dilakukan harus menunggu persetujuan pemerintah pusat setelah mendapatkan laporan perkembangan harga beras di lapangan, kata gubernur, kali ini akan lebih dipercepat sesuai kebutuhan.
"Di samping itu, kegiatan pasar murah jelang hari raya juga akan dilakukan, demi terus menekan harga pasar," sebut Frans. Khusus pasokan beras, gubernur mengatakan, kenaikan harga hanya berlaku pada beras jenis premium. Sedangkan beras jenis medium harganya masih relatif stabil.
"Kenaikan harga beras juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang menaikan harga eceran tertinggi (HET) pupuk. Tentunya, kenaikan harga pupuk ini berpengaruh kepada produksi padi. "Kenaikan harga beras di Kota Kupang hanya terjadi pada beras jenis premium.
Sedangkan untuk jenis medium, harganya tidak naik. Karena itu, saya minta pedagang beras jenis medium jangan ikut-ikutan menaikan harga berasnya. Dan kami berharap, masyarakat bisa menggunakan beras Bulog, karena kualitasnya tidak kalah dengan beras medium lainnya," pungkas Frans Lebu Raya. (rsy)
|