Rubrik Berita
Celah Timor: Apakah Itu Mimpi di Siang Bolong Oleh: P. Gregor Neonbasu SVD, PhD
Penulis adalah Ketua Komisi Sosial Budaya Dewan Riset Daerah Prop NTT, Ketua Badan Pengurus Harian YAPENKAR yang menangani UNIKA Widya Mandira Kupang, Direktur Puslit MANSE NSAE Kupang.
Dr. Klenik
| + |
DPD Desak Kemhut Surati Gubernur |
| - |
Sekali-kali Dipaksa Boleh Dong |
| + |
YMTM Terima Equator Prize |
| - |
Yang Lain Cuma Eksploitasi Kemiskinan |
| + |
Warga Dideadline Lima Hari |
| - |
Begitulah Nasib Orang Kecil |
|
RAKYAT SUROSA
|
Jumat, 23 Jul 2010, | 67
Amankan BBM, Pemda Siapkan Pol PP
|
|
|
MENIA, Timex - Untuk mengamankan terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Sabu Raijua, pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sabu Raijua sementara mempersiapkan personil Polisi Pamong Praja (Pol PP) guna melakukan operasi dilapangan terhadap para pengecer.
Demikian dikatakan Penjabat Bupati Sabu Raijua, Thobias Uly ketika ditemui Timor Expres di ruang kerjanya, pekan lalu. Dikatakan, untuk melakukan operasi terhadap para pengecer, maka saat ini Pemkab sementara mempersiapkan personil Pol PP dengan memberikan mereka pendidikan dan latihan khusus mengenai tugas dan fungsi dalam menjalankan tugas dilapangan.
Selain itu, sarana penunjang seperti kendaraan operasional sementara dipikirkan pemerintah, sehingga memperlancar tugas dan kerja Pol PP. Thobias mengatakan, kelangkaan BBM yang terjadi di Sabu Raijua disebabkan beberapa faktor seperti izin untuk pengecer, jumlah kuota BBM, jumlah kendaraan bermotor yang makin bertambah serta adanya pengecer yang nakal dan berusaha menimbun BBM, sehingga membutuhkan penanganan serius oleh pemerintah.
"Jadi masalah BBM di Sabu untuk sementara kita sedang menatanya yang dimulai dari izin serta mempersiapkan personil yang akan melakukan operasi lapangan. Sehingga, ketika nanti mereka bertindak tidak terlihat arogan tetapi benar-benar menegakan regulasi yang telah kita buat," ujar Thobias.
Dijelaskan, salah satu faktor yang selalu memicu kelangkaan BBM di Sabu adalah kondisi cuaca yang tidak menentu, sehingga membuat pengecer melakukan spekulasi harga jika melihat cuaca sedang tidak bersahabat. Untuk itu, maka kedepan akan dipikirkan bagaimana perlu ditambahkan lagi satu agen penyalur minyak dan solar (APMS), sehingga bisa menjawab kebutuhan masyarakat terhadap BBM yang kian meningkat.
Diakui, Pemkab sebenarnya telah membentuk tim 21 untuk melakukan penertiban BBM. Namun sejauh ini tim tersebut belum bisa menjalankan fungsinya secara maksimal karena baru berjalan pada tataran penyadaran terhadap pengecer.
"Untuk sementara, tim yang kita bentuk belum bisa bekerja maksimal. Mereka masih sekedar memberikan pencerahan dan penyadaran. Tapi nanti setelah sarana dan personil kita siapkan dalam waktu dekat ini, maka mereka sudah bisa action dilapangan," tambah Thobias.
Dikatakan, kelangkaan BBM di Sabu harus menjadi perhatian Pertamina sebagai penyalur resmi BBM keseluruh wilayah Indonesia dan tidak hanya membebankannya kepada pemerintah daerah. Sebab, kuota BBM di Sabu Raijua sejak masih berstatus kecamatan hingga sekarang telah berstatus kabupaten belum ada penambahan jatah atau kuota BBM.
Untuk itu, Pamkab tidak tinggal diam dan telah menyurati Pertamina agar ditambah lagi satu APMS dan Pemkab telah melakukan kesepakatan dengan pihak ketiga, sehingga tinggal menunggu realisasi dari Pertamina.
"Ini harus menjadi tanggungjawab kita bersama, bukan hanya Pemkab tapi Pertamina juga harus mengambil perhatian terhadap persoalan kelangkaan BBM di Sabu. Kita memang sudah bersurat ke Pertamina untuk tambah lagi APMS dan kita juga sudah mencapai kesepakatan dengan Piala Jaya sebagai agen yang akan berusaha di Sabu. Jadi kita tunggu realisasi dari Pertamina saja," pungkas Thobias. (kr9)
|
|