Rubrik Berita
Dr. Klenik
| + |
DPD Desak Kemhut Surati Gubernur |
| - |
Sekali-kali Dipaksa Boleh Dong |
| + |
YMTM Terima Equator Prize |
| - |
Yang Lain Cuma Eksploitasi Kemiskinan |
| + |
Warga Dideadline Lima Hari |
| - |
Begitulah Nasib Orang Kecil |
|
OPINI
|
Rabu, 21 Jul 2010, | 82
Ketamakan (2-habis)
|
|
|
Oleh: Sonya Gustiani Umburey
Penulis adalah penginjil di Gereja Kristen Injili Nusantara (GKIN) “REVIVAL” – Kupang.
II. KARENA KETAMAKAN MEMBUAT KITA LUPA TANGGUNG JAWAB KITA UNTUK MENJADI BERKAT BAGI ORANG LAIN.
Ketamakan tidak hanya membuat seseorang melupakan Tuhan, tetapi juga melupakan sesamanya. Sesama yang dimaksdukan di sini adalah sesama manusia yang membutuhkan bantuan kita. Mari kita melihat apa yang ada dalam hati orang kaya tersebut di tengah-tengah kelimpahannya. Luk 12:17: Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Ketika ia melihat panen yang sangat berlimpah di ladangnya, bukannya bersyukur kepada Allah atau bersukacita karena ini akan memberinya kesempatan untuk berbuat banyak kebaikan, malahan ia menjadi kebingungan/khawatir dengan apa yang dimilikinya “Apa yang harus ku perbuat”.
Luk 12:18-19 : (18) Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. (19) Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Ia mengambil keputusan untuk menyimpan segala kekayaannya. Jadi yang ada dalam pikiran orang kaya ini hanyalah simpan, simpan, simpan, tabung, tabung, tabung, masuk rekening, masuk rekening, masuk rekening, deposito, depositi, deposito. Sayangnya ia tidak sedikit pun berpikir untuk memberi kepada orang yang membutuhkan.
Merril C. Tenney berkata : “Pemilik tanah itu kebingungan dengan kekayannya, tetapi ia tidak memperhatikan kemungkinan untuk memanfaatkan simpananya demi kepentingan orang lain” (The Wycliffe Bible Commentary, Vol.3, hal.256-257). William Barclay menulis : “…orang kaya itu sangat bersikap mengkonsentrasikan segala sesuatu pada dirinya sendiri. Ketika orang ini memiliki harta yang berlimpah-limpah maka satu hal yang tidak masuk dalam kepalanya adalah bagaimana memberikan harta itu juga kepada orang lain”.
(The Daily Study Bible : The Gospel of Luke; hal. 238). Perhatikan bahwa dalam kata-kata si kaya tersebut terdapat begitu banyak kata “aku”, “ku”. Luk 12:17-19 : (17) “Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. (18) Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. (19) Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Perhatikan bahwa dalam kata-katanya ada 8 x kata ‘aku’ dan 5 x kata ‘ku’. Bandingkan dengan Luk 12:21 : Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah." Ini menunjukkan keegoisannya.
Tidak sedikit pun ia berpikir tentang orang lain dalam kaitan dengan hartanya. Ini adalah orang yang cinta akan segala kekayaannya/cinta uang. 1 Tim 6:10 : Akar dari segala kejahatan adalah cinta akan uang .... Jadi yang dipersalahkan bukan kepada uang / kekayaan yang kita miliki tetapi kepada kecintaan akan uang/ kekayaan tersebut. Dan orang yang cinta akan uang/kekayaan adalah orang yang sulit memberi untuk orang lain. Bagaimana dengan kita? Silahkan nilai diri sendiri-sendiri. Kalau kita adalah orang yang sulit memberi pada orang lain maka sesungguhnya kita adalah orang yang cinta uang/cinta kekayaan atau adalah orang yang tamak. Hari ini ada banyak orang yang tidak jahat.
Mereka bukan koruptor, bukan jambret atau copet. Mereka adalah orang-orang jujur yang bekerja keras untuk mendapatkan uang namun mereka begitu sayang/cinta uang mereka sehingga enggan untuk memberikannya pada orang lain. Hal yang sama terjadi pada banyak gereja yang begitu cinta akan uangnya sehingga mereka hanya berorientasi untuk memperbanyak saldo mereka dan menutup mata terhadap gereja lain yang harusnya ditolong. Ini adalah gereja yang CINTA UANG, gereja yang TAMAK dan dari sana akan muncul banyak kejahatan karena akar dari segala kejahatan adalah cinta uang.
Ini adalah gereja yang sakit, gereja yang tidak beres. Ingat kata-kata Paulus yang mengutip kata-kata Yesus dalam Kis 20:35b : “....kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." Richard Foster mengatakan : “Salah satu cara terbaik supaya kita tidak diperbudak oleh uang adalah dengan memberi”. Biarlah kita mengevaluasi diri sudahkah kita mempunyai hati yang selalu rindu untuk menjadi berkat bagi orang lain melalui uang/kekayaan yang ada pada kita?
Apakah kita selalu berpikir untuk memberi dan memberi bagi pekerjaan Tuhan? Salah seorang teman dari Richard Foster yang berprofesi sebagai dokter, suatu kali mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada seorang kaya di kota itu tentang rencananya terhadap semua uang yang ia miliki. Jawabannya sungguh mengejutkan, ternyata ia tidak mempunyai rencana apa pun atas semua hartanya; sepanjang hidupnya selalu mengkuatirkan hartanya dan ia akan merasa seperti tertusuk ketika ia memberi.
Sangat mengenaskan, bukan? Hal yang sama seringkali kita jumpai sehari-hari, orang lebih rela makanan yang berlimpah itu membusuk dan dibuang daripada diberikan pada orang lain. Orang semacam ini adalah orang yang miskin di hadapan Tuhan. Miskin kemurahan. Ia mempunyai kapasitas besar untuk memikirkan bagaimana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya tetapi ia tidak mempunyai daya untuk memberi.
Marilah kita belajar memakai uang/harta kita untuk menolong orang lain yang membutuhkan. William Barclay menceritakan tentang John Wesley yang tinggal di Oxford dengan gaji £ 30 / tahun. Ia hidup hanya dengan 28 £ dan sisanya ia berikan kepada orang lain. Pada saat gajinya naik menjadi 60, lalu 90, lalu 120 £, ia tetap hidup dengan 28 £ dan sisanya ia berikan kepada orang lain. Kalau saudara hidup seperti John Wesley, maka tidak jadi soal saudara kaya atau miskin, saudara adalah orang bijak! Tetapi persoalannya, apakah saudara hidup seperti John Wesley? Atau seperti orang kaya yang bodoh dalam bacaan ini? Dalam Reader’s Digest diceritakan tentang seorang polisi berusia 60 tahun yang tertembak mati.
Cerita itu masuk siaran TV, dan besoknya janda dari polisi itu, yang juga sudah tua, menerima sebuah amplop berisi ucapan turut berdukacita, yang ditanda-tangani oleh seorang yang tidak pernah ia kenal, disertai selembar check senilai $ 20.000, disertai dengan catatan bahwa ia akan menerima check seperti itu setiap tahun, selama sisa hidupnya. Pemberi yang dermawan itu bernama Milton Petrie, seorang jutawan Amerika.
Mengapa ia bisa bersikap seperti itu? Karena ia ingat bahwa dulu, sebagai anak dari seorang imigran Rusia yang menetap di Amerika, ia sangat miskin. Ia ingat bahwa ia harus memakai sepatu yang berlubang pada bagian telapaknya sehingga harus selipi semacam karton di dalam sepatu itu. Tetapi setelah bekerja, ia lalu menjadi kaya.
Ia pernah bangkrut, tetapi ia bangkit kembali. Itu menyebabkan ia beranggapan bahwa sukses / kekayaan merupakan sesuatu yang sangat rapuh, dan karena itu selama 30 tahun terakhir ia secara diam-diam membagikan kekayaannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Setiap kali ia mendengar suatu tragedi yang menyedihkan, melalui TV atau koran atau teman, ia memberikan bantuannya. Dan dalam artikel tersebut diceritakan banyak orang yang menerima bantuannya. Bahwa namanya bisa diketahui orang dan masuk majalah, bukan terjadi karena ia sengaja memamerkan kedermawanannya, tetapi karena pekerjaan wartawan yang menyelidikinya.
Ia sendiri sebetulnya ingin melakukan semua itu secara rahasia. Ia sudah berusia 88 tahun, tetapi ia tetap rajin bekerja di kantornya. Pada waktu ditanya mengapa ia tetap bekerja dengan begitu keras, ia menjawab: ‘Makin banyak saya bekerja, makin banyak uang yang saya hasilkan, dan makin banyak uang yang saya hasilkan, makin banyak saya bisa memberi’. Demikianlah ia terus membaca koran dan mendengar pada berita tentang orang-orang yang perlu dibantu.
Ia berkata: ‘Bagaimana aku bisa tidak melakukannya? Bagaimanapun juga, saya sedang membayar kembali kepada Tuhan untuk apa yang telah Ia lakukan bagi saya’. Inilah contoh orang yang kaya dalam kemurahan dan tidak dikuasai ketamakan. Jangan takut berkekurangan atau menjadi miskin dengan memberi. Tuhan berjanji memberkati orang yang demikian. Ams 11:24-25 : Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. Ams 19:17 : “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu”. Ams 19:17 ini di dalam terjemahan lamanya berbunyui demikian : “Barangsiapa yang mengasihani orang miskin, ia itu memberi pinjam kepada Tuhan, maka Tuhanpun akan membalas kebajikannya.
Ams 28: 27 : Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan , tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki. Supaya kita tidak menjadi tamak dan cinta uang, marilah kita belajar memberi. Ingat, semua itu harus kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Betapa bahagia dan sukacita hidup kita kalau kita dapat melakukan Firman Tuhan: ”lebih baik memberi daripada menerima” sebab di saat memberi itulah kita mendapatkan sukacita sejati.
III. KARENA KETAMAKAN DAPAT MEMBUAT KITA LUPA BAHWA KEMATIAN BISA DATANG TIBA-TIBA DAN MENGAKHIRI SEMUANYA.
Setalah berhasil mengamankan hasil panen yang besar, si kaya ini siap untuk beristirahat, menikmati segala kekayaannya. Dia membuat beberapa pikiran yang salah bahwa jiwanya dapat dipuaskan dengan harta kekayaan; bahwa harta kekayaan akan bertahan lama; dan bahwa dia akan hidup untuk menikmati semuanya.
Luk 12:19 : Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Harapan dan keinginan yang menyenangkan hatinya, telah terlaksana. Ini membuat ia merasa sudah aman, sebab ada begitu banyak investasi kekayaan yang telah ia simpan bagi dirinya sendiri. Akan tetapi orang kaya tersebut tidak memperhitungkan adanya penggilan mendadak yaitu waktu ia harus menghadap Allah dan meninggalkan semua harta yang telah ia kumpulkan dengan susah payah. Luk 12:20 : Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?
Ini adalah kematian yang tiba-tiba, dan ini bisa terjadi pada siapapun juga! Perhatikan kontras antara ayat 19 dan 20 : (19) Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! (20) Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Ayat 19 berkata : ‘bertahun-tahun lamanya’ / ‘many years’.
Tapi ayat 20 berkata : ‘malam ini juga’. Banyak orang mengira hidupnya masih panjang, padahal kematian sudah begitu dekat! Ams 27:1 berkata : Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu. Maz 39:5-7 : (5) "Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku! (6) Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kau tentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa.
Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! S e l a (7) Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti. Demikian juga Yak 4:13-14 : (13) Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung", (14) sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Ketika Allah mengambil hidup seseorang maka dengan segera ia akan pensiun dari segala kenikmatan dan kesenangannya dan semua yang ia punyai otomatis menjadi sia-sia.
Luk 12:20 : “............dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti? Bandingkan dsengan Ams 11:4 : “Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut”. Juga Maz 49:17-21 : (17) Janganlah takut, apabila seseorang menjadi kaya, apabila kemuliaan keluarganya bertambah, (18) sebab pada waktu matinya semuanya itu tidak akan dibawanya serta, kemuliaannya tidak akan turun mengikuti dia. (19) Sekalipun ia menganggap dirinya berbahagia pada masa hidupnya, sekalipun orang menyanjungnya, karena ia berbuat baik terhadap dirinya sendiri, (20) namun ia akan sampai kepada angkatan nenek moyangnya, yang tidak akan melihat terang untuk seterusnya. (21) Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.
Ini membuktikan bahwa uang/kekayaan tidak dapat membeli segalanya, uang tidak dapat membeli kehidupan walau 1 detik di depan kita. Mat 16:26 berkata : “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Mat 6:27 : Siapakah di antara kamu yang .....dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Kematian bagi orang-orang duniawi seperti sebuah tindakan pemaksaan, sesuatu yang mengejutkan dan tak terduga dan ketika kematian itu menghampiri mereka maka selaga sesuatu yang menjadi sandaran kebahagiaan mereka, labuhan mereka, dan sumber pengharapan mereka harus ditinggalkan.
Sebaliknya, mereka akan pergi dengan telanjang dari dunia ini seperti ketika dilahirkan dan mereka tidak akan merasakan manfaat apa pun dari apa yang sudah mereka kumpulkan baik itu dalam kematian, dalam penghakiman, maupun dalam kekelakan. Mungkin kita berpikir bahwa semua harta yang kita kumpulkan untuk kepentingan anak kita kelak tetapi apakah mereka akan berhikmat atau bodah dengan harta warisan itu?
Pengkh 2:18-19 berkata : (18) Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku. (19) Dan siapakah yang mengetahui apakah orang itu berhikmat atau bodoh? Meskipun demikian ia akan berkuasa atas segala usaha yang kulakukan di bawah matahari dengan jerih payah dan dengan mempergunakan hikmat. Inipun sia-sia. Apakah harta itu akan memberi kenangan yang baik atau buruk tentang dirimu, akan menjadi berkat atau kutuk bagi keluargamu, akan membawa kebajikan atau kejahatan bagi mereka yang mewarisinya, akan disimpan atau dihabiskan.
Bahkan kita tidak akan tahu kalau orang yang mewarisinya mungkin tidak bisa menikmatinya dan warisan itu jatuh ketangan orang yang sama sekali tidak terpikir oleh kita. Pengkhotbah berkata bahwa ini pun sia-sia. Allah memandang orang ini bodoh karena ia berusaha keras mengumpulkan harta di dunia yang akan segera ia tinggalkan, tetapi ia tidak peduli mengumpulkan harta di dunia untuk sebuah kehidupan yang akan ia tuju. Orang ini jelas adalah orang yang sukses dalam bisnis / pekerjaannya sehingga menjadi kaya. Kalau pada jaman ini mungkin ia adalah semacam konglomerat.
Dan orang-orang seperti ini pada jaman ini selalu dianggap sebagai orang yang pandai oleh dunia. Tetapi Allah menganggap orang kaya ini bodoh! Renungkan ini! Bagaimana dunia memandang saudara? Dan bagaimana Allah memandang saudara? Yang mana yang lebih penting bagi saudara, pandangan dunia tentang diri saudara atau pandangan Allah tentang diri saudara? Kesalahan yang dibuat oleh orang kaya ini yaitu ia mengganggap bahwa tubuh jasmaninya adalah dirinya sendiri, seolah-olah tubuh itu adalah manusia itu sendiri sehingga ia berusaha mengumpulkan harta untuk tubuhnya sebagai pekerjaan utamanya, yang baginya berarti mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri.
Ia menganggap hal-hal yang dikumpulkan untuk dunia, untuk tubuh dan untuk kehidupan sekarang adalah hartanya. Harta adalah kekayaan yang diandalkannya, yang dihabiskannya, dan yang kepadanya ia mencurahkan segala perasaannya. Pdt. Budi Asali mengatakan : Mengapa ia disebut sebagai orang bodoh? (1) Karena ia mengira / menganggap bahwa hatinya bisa disenangkan oleh uang, makanan, minuman dsb.
Kalau saudara beranggapan bahwa saudara bisa berbahagia kalau mempunyai hal-hal duniawi, maka saudara juga adalah orang bodoh! (2) Orang ini hidup hanya untuk sekarang. Ia tak peduli tentang kekekalan / hidup yang akan datang. Apakah saudara adalah orang seperti itu? (3) Orang ini hanya hidup untuk hal-hal jasmani / duniawi. Ia sedikitpun tak memikirkan hal rohani. (4) Orang ini tak pernah bersyukur kepada Tuhan / memuji Tuhan.
(5) Orang ini adalah orang yang egois. Akhirnya boleh dikatakan bahwa kesalahan terbesar dari orang kaya ini adalah ia sama sekali tidak berusaha untuk kaya di hadapan Allah, kaya menurut pandangan Allah. Luk 12:21 berkata : Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah." Dengan kata lain sekalipun orang ini kaya secara duniawi tetapi ia miskin secara rohani. Bandingkan Wah 3:17 : “Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, (KAYA SECARA JASMANI) dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, (MISKIN SECARA ROHANI) ...”. Supaya saudara tak menjadi seperti orang ini, turutilah kata-kata Yesus dalam Mat 6:19-21 : “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.
Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”. Banyak orang yang hidupnya berkelimpahan di dunia ini sama sekali tidak punya sesuatu yang dapat memperkaya jiwa mereka, yang dapat membuat mereka kaya dihadapan Allah, kaya untuk kehidupan kekal. Orang bijaksana adalah orang yang selalu berpikir maju, bagaimana menata hidupnya, bukan hanya dalam perkara jasmani tetapi juga dalam perkara rohani. Tetapi semua ini tak mungkin terjadi kalau kita terikat dengan dosa ketamakan.
Hidup berkelimpahan itu memang menyenangkan tetapi jika kelimpahan plus ketamakan akan menghancurkan kehidupan kita. Hari ini Tuhan mengigatkan kita untuk berjaga-jaga terhadap ketamakan agar hidup kita menjadi berkat bagi orang lain dan juga untuk kemuliaan Tuhan yang telah memberkati kita. 3 point dalam yang sudah saya bahas ini terangkum secara utuh dan sempurna dalam kata-kata Paulus yang dicatat dalam 1 Tim 6:17-19 : (17) Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaanNya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.
(POINT 1) (17) Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi (POINT 2) (19) dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya”. (POINT 3).
Karena itu jikalau pemikiran / perasaan tamak ini ada dalam diri saudara, mintalah kekuatan dari Tuhan untuk membuang semuanya sambil tetap menjaga hati saudara dengan penuh kewaspadaan terhadap dosa ketamakan ini sambil mengingat pengajaran Yesus : “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Luk 12:15). AMIN!
|
|