Rubrik Berita
Dr. Klenik
| + |
Tingkatkan Persaudaran RI-RDTL |
| - |
Bukan Jadi Lawan Tanding |
| + |
Bangun Kembali Budaya NTT |
| - |
Warisan Bagi Anak Cucu |
| + |
Bangun Kembali Budaya NTT |
| - |
Warisan Bagi Anak Cucu |
|
OPINI
|
Sabtu, 21 Nov 2009, | 131
Selamat Bekerja DPD GAMKI NTT 2009-2012
|
|
|
Wilson M.A. Therik, S.E, M.Si*)
*) Anggota GAMKI Kota Kupang
SIAPA yang tak mengenal sosok Ir. Emilia Nomleni (Anggota DPRD NTT dari PDI Perjuangan) dan Paulus E.L. Bolla, S.Th (Wartawan dan Humas PLN Wilayah NTT) yang akrab dengan sapaan Paul Bolla. Mereka adalah pasangan Ketua dan Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia Nusa Tenggara Timur (DPD GAMKI NTT) Masa Bakti 2009-2012 hasil Konperensi Daerah GAMKI NTT tanggal 16-20 November 2009.
Terlepas dari segala persoalan yang melanda GAMKI NTT sebagaimana pemberitaan tentang Konferda GAMKI NTT dan kondisi DPC GAMKI Kota Kupang Masa Bakti 2008-2011 di Harian Pagi Timor Express selama lima hari terakhir ini, saya secara pribadi perlu mengucapkan selamat kepada Ir. Emilia Nomleni dan Paulus E.L. Bolla, S.Th yang dipercayakan memimpin GAMKI NTT Masa Bakti 2009-2012, semoga mereka tidak mengikuti jejak DPD GAMKI NTT periode sebelumnya yang tak mampu mengatasi persoalan internal organisasi.
Sekedar mengingatkan kepada kita semua termasuk saya yang mengaku sebagai orang-orang GAMKI bahwa sesungguhnya 47 Tahun yang lalu atau tepatnya tanggal 23 April 1962, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) diakui dan diterima sebagai satu-satunya organisasi pemuda kristen Indonesia yang membawakan suara atau aspirasi pemuda kristen di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut hemat saya, pertanyaan utama yang harus dijawab tidak saja dibibir tetapi dengan karya nyata oleh mereka yang mengaku sebagai kader-kader GAMKI adalah Masih adakah yang bisa diharapkan dari GAMKI saat ini? Bagaimana tidak ! Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang 'era' mengeluh di Republik ini. Saat ini kita, saya, anda, keluarga kita dan masyarakat pada umumnya, orang Kristen pada khususnya JUGA MENGELUH mengalami banyak tantangan hidup. kesulitan multi dimensi dalam hidup berbangsa saat ini ditengah Republik ini.
Termasuk pengeluhan di dalam tubuh GAMKI di NTT sendiri, masih banyak DPC GAMKI se-NTT yang tidak berjalan aktif dan juga gesekan-gesekan kepentingan individu tertentu di dalam tubuh GAMKI NTT yang pada akhirnya memberi kesan bahwa GAMKI adalah milik satu dan dua orang saja, sementara anggota GAMKI yang lain hanya menjadi penonton. Karena itu, apa yang sudah terjadi pada periode kemarin jangan diulang lagi.
Peran GAMKI
Dibidang agama: agama bukan lagi sebagai sarana kasih-membawa keteraturan dan sejahtera, melainkan diperalat untuk memenuhi kehendak manusia yang di make-up atau dilegalisir sebagai kehendak Allah. Politik di 'agamakan' dan agama di 'politikkan'. Agama dijadikan sebagai alat menghimpun massa yang dahsyat untuk menghancurkan golongan lain yang tidak sepaham dengannya atau penghambat terwujudnya kepentingan tokoh-tokoh tertentu. Inilah yang terjadi dalam konflik di berbagai daerah seperti Ambon, Poso, Tasikmalaya.
Demikian pula dengan NTT yang masyarakatnya sangat heterogen juga memiliki potensi konflik yang sama apabila kita tak mampu mengelola konflik yang ada, ingat NTT punya masa kelabu pada Tahun 1998.
Pertanyaan ikutannya adalah bagaimana dengan wacana kerukunan antar umat beragama? Ternyata hanya masih berlangsung ditatanan seminar, dialog, temu ramah, tetapi pengimplementasiannya dipertanyakan. Indikatornya, masih banyaknya intimidasi dari ormas dan masyarakat yang diperalat, kepada umat yang minoritas dari segi jumlah.
Dalam bidang ekonomi: ketidakpastian kondisi berbangsa, ketidakpastian bagi investor, sehingga mereka tarik modal : Sulitnya lapangan pekerjaan: semakin banyaknya pengangguran baik yang terdata/tersembunyi. yang menjadi bom waktu. Singkat kata, masyarakat yang mengeluh dan berharap; mulai frustasi sosial dan ujung-ujungnya sampai kepada gerakan protes sosial. Selain adanya ketidakseimbangan pendapatan ekonomi antara pelaku ekonomi lokal dan migran.
Semakin besar jumlah kelompok orang yang terpinggirkan, masyarakat gampang terhasut untuk melakukan kekerasan. Itulah awal dari berbagai letupan ketidakpuasan yang muncul dimasyarakat dalam bentuk demonstrasi, penjarahan, pembakaran dan berbagai bentuk protes terhadap kemapanan. Emosi massa yang tidak stabil, gampangnya menghabisi nyawa orang lain, merusak bangunan termasuk gereja tanpa merasa bersalah.
Trend kekerasan merajalela.
Ironisnya, hal ini diperparah lagi dengan Politik: di mana “perkelahian Elit Politik”, sendiri pun sering mempropagandakan kecemasan rakyat dan memperalat rakyat/massa pendukungnya kekerasan otot bukan otak demi mencapai tujuan politiknya. Terjadi pembodohan terhadap rakyat & kekerasan melalui Undang-undang. Dan pihak yang dianggap sebagai tempat mengadu sebagai Dewan Perwakilan Masyarakat, eh ternyata banyak yang sandiwara memakan tumbal anggota masyarakat. Kepentingan pribadi tetap jadi orientasi! Lihat saja persoalan antara KPK Versus Polri dan kinerja Komisi III DPR RI beberapa pekan terakhir ini.
Begitu pula dengan elit-elit politik lokal di NTT, konflik yang tak kunjung selesai di tubuh pemerintahan Kabupaten Kupang, perseteruan yang tak berakhir di tubuh wakil rakyat Kota Kupang, adalah contoh nyata ketidakdewasaan berpolitik para elit-elit lokal kita, jangan sampai ini terjadi lagi di dalam tubuh GAMKI di NTT.
Kekerasan dalam bidang Budaya: NTT sebagai daerah yang berkembang adalah pasar potensial bagi kaum kapitalis, iklan, krisis budaya, konsumenisme, dan atas nama modernitas, sex bebas, hedonisme: melahirkan generasi X yang sulit diatur.
Keadaan alam kita yang semakin Koma dengan polusi tanah, air dan udaranya yang dibuat oleh ketamakan manusia sendiri yang mengekspolitasi bumi. Bencana “Ini menyadarkan kita bahwa sekarang kita hidup diantara jerami kering, yang dengan api kecilpun ternyata dapat mehyala hebar dan tidak mudah untuk dipadamkan”. Ditengah keadaan inilah masyarakat berharap pada sepak terjang GAMKI NTT.
Refleksi untuk GAMKI NTT
Pertanyaan untuk refleksi: masih adakah yang riil yang dapat kita harapkan dari GAMKI? Banyak lembaga keumatan dan lembaga kader yang mengaku sebagai lembaga jawaban terhadap persoalan kompleks. Menurut hemat saya, kita perlu merfleksikan “Pengenalan Standart GAMKI”.
GAMKI tidak terlepas dari rangkaian kata yang terangkai dalam GAMKI, yaitu: Pertama, kata Gerakan (Movement) mengandung makna adanya lebih dari satu orang yang menjadi satu kesatuan yang bergerak ke arah yang sama, serta menyerap lebih banyak lagi orang lain (mobilisasi) dan berjuang bersama. Kata Gerakan juga mengandung makna adanya tujuan, keinginan, dan cita-cita yang ingin diwujudkan melalui kegiatan bersama dengan kata lain dipakai Allah menghadirkan syalom Allah di tengah-tengah dunia.
Sebagai organisasi yang bergerak dinamis. Pengurus harus mengetahui siapa yang memimpin gerakan ini (TUHAN YESUS) dan kemana arah gerak GAMKI sesungguhnya, tanpa itu: orang buta menuntun orang buta. Layaknya berjalan tanpa arah – tanpa peta. Pengenalan tujuan didapat dari pengajaran Alkitab. Aneh jika program kerohanian lebih banyak dilupakan, sosial politik lebih diutamakan.
GAMKI sebagai lembaga kader tertantang membawa umat untuk berpengharapan secara rendah hati kepada Allah. Diterangi oleh Roh Kudus membuat program-program yang bersifat empowering: memberdayakan skill anggota dan masyarakat, pemberdayaan ekonomi, sebagai wujud karya konkret. Organisasi yang stagnasi yang tidak bergerak sama dengan mati; organisasi yang habis energinya untuk persoalan internal: keributan antar pengurus sama dengan mati.
Kedua, kata Angkatan Muda menunjukkkan ciri usia dan jiwa yang menjadi anggota GAMKI, dimana dari segi usia mereka adalah kaum muda, yang penuh idealisme dan dinamika. sehinggga cenderung berpikir analitis, bersifat ingin tahu, dan berpandangan luas. Ketika sudah merasa mapan: merasa diri hebat, tidak mau dikoreksi sama dengan mati! Jika ada figure seperti ini: mari introspeksi.
Ketiga, kata Kristen. Dengan kata Kristen menjadi indikasi dari sifat Kristiani yang menjiwai seluruh gerak dan kegiatan GAMKI, sebagai titik tolak dalam usaha pencapaian tujuan yang bersumber kepda Alkitab. Bukan kepentingan golongan atau nafsu jabatan dan kekayaan. Tetapi kepentingan Kristus.
Kita juga harus kritis Memandang Pola Kekristenan kini? Ketika ada kepentingan pribadi; pejabat; donatur; maka aura organisasi hilang, masyarakat mengeluh, tidak ada yang bisa diharapkan dari GAMKI. Kekeristenan kita harus Kritis. Jangan sampai kekristenan kita hanya mengurusi internal, kesalehan, mengurung diri dalam ibadah, munculnya sikap menerima begitu saja tatanan yang ada (Pro Status Quo). Gejolak masyarakat akibat sistem politik yang muncul tidak dipandang serius, malah seolah-olah diperlukan sebagai ujian iman, dimana kemenagan iman tidak dilihat dari keterlibatannya dalam menghadapi pokok persoalan, melainkan hanya menanamkan sikap tabah yang pasrah, dan berdiam diri. Tidak menghadirkan SOLUSI.
Keempat, kata Indonesia menunjukkan identitas kebangsaan gerakan ini, GAMKI lahir dan hidup di bumi Indonesia, Sehingga harus peka terhadap isu-isu lokal; keluhan dan pergumulan masyarakat dan kita sendiri. Jika tidak peka sama dengan dianggap mati! Ingat, sesungguhnya ikan yang senantiasa mengikuti arus adalah ikan yang mati, sedangkan ikan yang hidup pasti akan melawan arus.
Kelima, saya tambahkan lagi dengan kata Nusa Tenggara Timur, daerah ini memiliki 1.192 pulau dengan jumlah penduduk mencapai angka 4 juta lebih, orientasi pembangunan di NTT ke depan adalah pembangunan sumber daya manusia karena kekayaan sumber daya alam di NTT sangat terbatas, pembagunan manusia mejadi penting dalam konteks pembangunan di NTT ke depan dan GAMKI sebagai satu-satunya organisasi pemuda kristen di NTT harus bisa menjawab tantangan pembangunan ini.
Dari segi pribadi kita sebagai pemuda, mahasiswa, pelajar, pegawai, ternyata banyak juga yang tidak mau terbeban memikul salib, ada perasaan malu, tidak mau repot, dengan alasan “ itu tugas pendeta dan penginjil”, takut ditolak teman dalam pergaulan.
Kemudian, jangankan menjadi saksi, justru banyak diantara kita yang sering menjadi sumber masalah dengan tidak disiplin dan pola hidup yang tidak benar, dan-lain-lain. Jangankan bisa membuat orang lain percaya pada Tuhan Yesus, justru kita sendiripun tidak bisa dipercaya.
Sering sekali kita membela diri dengan mengatakan tugas yang diperlukan waktu dulu, kini keadaan lebih ruwet. Siapa bilang, keadaan dulu lebih ruwet. Kekristenan penuh dengan penganiayaan dan pengejaran, penangkapan.
Kita juga sering mengatakan bahwa bukankah kita adalah minoritas ditengah kemajemukan, dulu tidak begini parahnya keadaan. siapa bilang, dari Alkitab dan buku-buku sejarah gereja kita ketahui bahwa zaman-zaman para rasul dan kekeristenan mula-mula keadaan lebih rumit. Dulu saling bunuh, persaingan agama lekat dengan ekspansi. Dan ada banyak pemerintahan dan kepercayaan radikal ditengah pertumbuhan kekeristenan yang menganiaya kekristenan. Nah bukankah keadaan kita sekarang lebih baik dengan telah lebih terorganisirnya agama dan adanya pengakuan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM).
Dan lagi, berada dalam keadaan majemuk adalah bukan kehendak kita, ini pilihan Tuhan, TUHAN menempatkan saya, anda dan kita semua di tengah kemajemukan. Kita percaya bahwa tentu penempatan ini mempunyai tujuan, rencana. Tetapi memang kita sering tidak serius menanggapinya. Kita kurang meresapi apa tujuan dari ini semua, apa sikap yang seharusnya kita lakukan, apa arti Amanah Agung bagi hidup kita, lingkungan tempat tinggal, kost, pekerjaan dan lain-lain.
Firman TUHAN berkata beritakanlah injil baik atau tidak baik keadaaannya, artinya di mana dan kapan saja. Kita khawatir agenda kekristenan kita secara pribadi dan organisasi tidak berpikir lagi soal Pekabaran Injil. Sehingga kita tidak punya daya sebar seperti garam dan terang. Kekristenan seperti “pelita dalam gantang”. Untuk itu mari bersaksi dan menjadi teladan. Jadi pekabar injil melalui perbuatan, kata dan doa kita. Firman Tuhan berkata "beritakanlah Injil, baik atau tidak baik keadaanya".
Akhirnya, kalau bisa dipermudah kenapa harus dipersulit. Jangan sirnakan harapan masyarakat akan suara kenabian yang disuarakan GAMKI, jangan buat masyarakat apatis pada GAMKI, seoalah ada atau tidak ada GAMKI, nothing to lose! Masyarakat berharap pada GAMKI. Dan satu lagi yang tak kalah penting adalah, persoalan di DPC GAMKI Kota Kupang Masa Bakti 2008-2011 hasil Konpercab I 13 April 2008 belum selesai dan itu perlu diselesaikan secara GAMKI. Kepada Ir. Emilia Nomleni dan Paulus E.L. Bolla, S.Th, selamat melayani. Ora Et Labora, Syalom.
|
|