Rubrik Berita
Dr. Klenik
| + |
Tingkatkan Persaudaran RI-RDTL |
| - |
Bukan Jadi Lawan Tanding |
| + |
Bangun Kembali Budaya NTT |
| - |
Warisan Bagi Anak Cucu |
| + |
Bangun Kembali Budaya NTT |
| - |
Warisan Bagi Anak Cucu |
|
RAKYAT SUROSA
|
Sabtu, 24 Oct 2009, | 186
Petani Rumput Laut Rote Merugi Akibat Pencemaran Minyak Mentah
|
|
|
GANTUNG TALI: Salah satu petani rumput laut, Hermanus Fiah terpaksa menggantung tujuh tali yang selama ini digunakan berbudidaya rumput laut karena pencemaran minyak mentah, Jumat (23/10) kemarin. (ARYANTO TAKUBESI/TIMEX)
BA'A, Timex--Tahun 2009 merupakan tahun bencana bagi petani rumput laut di Kabupaten Rote Ndao. Betapa tidak, hasil panen rumput laut justru merugi akibat pencemaran minyak mentah dari laut Timor.
Petani rumput laut asal Dusun Mayoe Desa Dayama Kecamatan Rote Timur,
Silpa Elisabeth Eik Fuah (40), yang diwawancarai Timor Express, di kediaman Sadrak Fuah, Jumat (23/10) siang, mengaku, harga rumput laut yang dijual kini menurun drastis.
"Dulu harga standar terendah 20.000 setiap kilogram, sekarang harga sudah turun 5000 setiap kilogram. Tahun ini kita tidak timbang lagi, tetapi langsung jual karena harga sangat rendah," kata Silpa Elizabeth Fuah.
Petani rumput laut yang mengaku memiliki dua wilayah budidaya, yakni di pantai Rote dan Tablolong Kabupaten Kupang tersebut, tidak biasanya mendapat penghasilan seperti tahun 2009, "Biasa setiap dua bulan, saya panen satu ton karena perkembangannya bagus, tetapi tahun ini langsung jual dan tidak pakai timbang," jelasnya.
Karena penyakit tersebut terus melekat pada batang rumput meskipun telah dikeringkan, sehingga penjualpun langsung melepas dengan harga obralan. Kerugian besar tersebut tidak terlepas kebocoran sumur minyak Australia di celah Timor beberapa waktu lalu.
Hermanus Fiah (56), warga dusun III Kokodale Desa Tanggunamo Kecamatan Pantai Baru, yang juga seorang petani rumput laut yang dikonfirmasi, Jumat (23/10), di kediamannya, mengakui hal tersebut "Pelampung pakai botol minyak bimoli yang tidak dicuci bersih menggunakan sabun pun menyebabkan rumput laut mati. Jadi kerusakan rumput laut akibat kebocoran minyak itu pasti," ujar Hermanus yang diaminkan teman-tamannya.
Dia menambahkan, "Tahun-tahun ini baru mulai ada penyakit itu, tahun tahun sebelumnya tidak ada. Penyakitnya dilihat dari ciri-ciri rumput laut yang batangnya kuning keputih-putihan, dan cabang-cabangnya juga putih," ujar petani yang berbudidaya rumput laut di pinggir pantai Kokodalu kecamatan Pantai Baru tersebut.
Penyakit rumput laut yang mulai menyerang, untuk tahun 2009 terjadi sejak April, namun yang paling besar terjadi pada bulan Agustus 2009 lalu. Baik Hermanus dan Elisabeth Eik Fuah yang dimintai keterangannya, itu tidak mengetahui penyebab penyakit yang melanda wilayah budidaya mereka.
Karena baru pernah terjadi kali pertama. Beruntung, menjelang datangnya gejala penyakit rumput laut pada April lalu, Hermanus dengan cepat melakukan panen. Sehingga untuk saat ini tujuh tali rumput laut yang biasanya dibudidaya, semuanya ditarik karena penyakit tersebut. "Saya punya tujuh tali, tetapi semuanya sekarang sudah tarik. Tidak ada lagi di pantai," jelas Hermanus.
Hingga sekarang, para petani rumput laut masih berharap akan adanya perhatian pemerintah dalam pemberantasan penyakit rumput laut tersebut. Karena petani baru pernah mengalami kejadian tersebut. Sama halnya dengan Hermanus, Elisabeth Eik Fuah juga memilih berdiam diri di rumah dan tidak berbudidaya di pantai. Fuah juga mengaku, telah menarik tali ikatan rumput laut sejak pekan lalu. Hingga sekarang petani rumput laut di Rote Ndao masih belum menemukan penyebab kerusakan rumput laut dan cara pencegahannya.
Sebelumnya, tumpahan minyak mentah akibat kebocoran di zona Montara milik Australia yang sudah mencemari perairan Indonesia di Laut Timor mendapat respon positif Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Marty Natalegawa yang baru dilantik bersama 33 menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II lainnya oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Negara, Kamis (22/10) kemarin.
"Iya, masalah itu akan tetap kita tindaklanjuti, hanya saja sampai saat ini kita (Deplu) belum dapat laporan dari tim Departemen Perhubungan (Dephub) itu seperti apa. Nanti kita akan sampaikan kalau sudah ada hasilnya," ungkap Marty Natalegawa saat ditanyai Timor Express usai acara serah terima jabatan (sertijab) Menlu dari pejabat lama, Nur Hassan Wirajuda di Gedung Pancasila Deplu, Jl. Pejambon, Jakarta Pusat, Kamis (22/10).
Ditanya bagaimana sikap pemerintah Indonesia terhadap tindakan aparat keamanan laut Australia yang merusak kapal milik nelayan Indonesia saat beraktifitas di perairan Laut Timor, dengan menabrakkan speadbood ke body kapal nelayan, Marty yang tampak rendah hati itu mengatakan kalau pihak Deplu belum mendapatkan informasi resmi atau semacam laporan resmi dari masyarakat soal masalah itu.
"Saya belum bisa menjelaskan hal itu karena kami (Deplu, Red) belum mendapatkan pengaduan atau laporan resmi dari masyarakat. Kalau ada pasti kita sikapi," kata mantan Duta Besar tetap Indonesia di PBB itu. (mg-8)
|
|