JAKARTA,Timex - Ancaman teror terhadap beberapa pejabat tinggi mengiringi rencana eksekusi tiga terpidana mati, Amrozi Cs. Sebuah surat pernyataan bernada ancaman muncul di sebuah situs dengan alamat www.foznawarabbikakbah.com. Surat dengan tiga bahasa yang berisi delapan poin itu mengatasanamakan trio bomber, Amrozi, Imam Samudera, dan Mukhlas.
Salah satunya adalah seruan untuk menyatakan perang dan membunuh individu-individu yang terlibat dalam eksekusi Amrozi Cs. Yakni Presiden SBY, Wapres Jusuf Kalla, Menkum HAM Andi Mattalatta, Jaksa Agung Hendarman Supandji, JAM Pidum Abdul Hakim Ritonga, serta tim eksekutor yang terlibat. Dalam surat tersebut juga ada nama Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi yang disebut-sebut sebagai pendukung eksekusi.
Menanggapi hal tersebut, pihak Kejagung enggan berkomentar. "Persoalan eksekusi Amrozi adalah persoalan hukum, bukan masalah lain-lain. Jadi untuk masalah ini, saya no comment," kata Kapuspenkum Jasman Pandjaitan di Kejagung, kemarin (4/11). Meski demikian, dia tidak menampik jika kabar teresbut telah diketahui pimpinan Kejaksaan.
Reaksi berbeda justru ditunjukkan oleh Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji. Menurutnya, ancaman tersebut bukanlah hal yang sifatntya main-main. "Itu namanya cyber crime, bukan main-main," katanya di Mabes Polri, kemarin.
Mantan Kapolda Jabar itu mengatakan, pihaknya tengah melakukan penyelidikan terhadap kejahatan tersebut. termasuk mengetahui motif pihak yang membuat situs tersebut. "Siapa yang buat dan apa background-nya," kata Susno.
Istana Anggap Teror
Ancaman pembunuhan bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla direspon serius oleh pihak istana. Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng menilai ancaman yang dimuat si sebuah situs mengatasnamakan terpidana bom Bali itu merupakan bentuk teror.
''Negara tidak boleh kalah dengan terorisme. Pelakunya harus segera dicari dan diberi sanksi,'' kata Andi Mallarangeng di kantor presiden kemarin.
Menurut Andi, pihak istana akan mengambil langkah yang tepat untuk merespon ancaman tersebut. Ancaman terhadap presiden dan pejabat negara, lanjut Andi, tidak bisa dianggap main-main. ''Di mana pun di seluruh negara di dunia, ancaman-ancaman semacam itu adalah melanggar undang-undang karena pada dasarnya adalah merupakan teror,'' katanya.
Aparat keamanan juga diminta mengejar pelaku teror tersebut. ''Mereka yang melakukan hal-hal semacam itu akan kita kejar dan itu tugasnya aparat negara, kepolisian, dan sebagainya,'' kata Andi.
Meski mendapat ancaman, lanjut Andi, kegiatan presiden sama sekali tidak terganggu. Tidak ada agenda presiden yang dibatalkan gara-gara ancaman tersebut. Kemarin SBY tetap melakukan aktivitas seusai dengan rencana. Yakni menghadiri Dies Natalis IPB di Bogor dan menerima tamu di kantor presiden. ''Acara jalan terus, kegiatan dilakukan sebagaimana biasanya. Tentu adalah tugas aparat negara, mulai paspampres dan aparat lainnya yang bertugas melindungi presiden secara profesional," ujar Andi.
Teror itu, kata Andi, juga tidak membuat presiden mengintervensi persiapan eksekusi Amrozi cs. Eksekusi, kata Andi, sudah ditetapkan oleh pengadilan dan sudah berkekuatan hukum tetap. Sehingga harus tetap dijalankan. ''Jangan lupa korban-korban yang tewas karena kekerasan teorisme tersebut,'' jelasnya.
Selain SBY, Kalla, Menkum HAM Andi Mattalata, dan Jaksa Agung Hendarman Supanji, situs tersebut juga mengancam Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi. Pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang itu dinilai mendukung pelaksanaan eksekusi terhadap terpidana bom Bali.
Ketua PB NU Andi Jamaro mengaku tidak khawatir dengan ancaman tersebut. ''Pak Hasyim cukup dijaga Allah,'' kata Andi Jamaro. Kantor PB NU di Jalan Kramat Raya kemarin tampak biasa saja. Tidak ada personil kemanan yang berjaga di sana. Gedung delapan lantai itu seperti biasa hanya dijaga dua satpam di pos depan.
Menyikapi surat itu, kemarin Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso bertemu Kapolri Bambang Hendarso Danuri di Kantor Menkopolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat.
Ditemui usai pertemuan, Panglima enggan berkomentar banyak. "Namanya pengamanan itu akan kita siapkan sebaik-baiknya. Ya kita siapkan, kita rencanakan. Kita latih pengamanan dalam arti luas," kata Djoko.
Jenderal asal Solo itu menegaskan TNI maupun kepolisian telah mempersiapkan segala sesuatunya, tidak hanya pengamanan terhadap presiden dan wakil presiden. Pengamanan TNI maupun kepolisian telah dilakukan melalui koordinasi di daerah atau wilayah masing-masing.
"Bukan hanya presiden dan wapres. Tapi pengamanan dalam arti luas, TNI dan Polri menyiapkan itu semua," jelasnya.
Panglima TNI mengatakan, pihaknya telah menyiapkan personil maupun satuan untuk mendukung kepolisian dalam pengamanan eksekusi Amrozi cs.
Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso juga mengatakan pada prinsipnya kepolisian tetap menjaga keamanan agar tetap kondusif. "Insya Allah aman. Kita siapkan semuanya," katanya singkat. (fal/tom/rdl/jpnn)
|