Rubrik Berita
Dr. Klenik
| + |
Tingkatkan Persaudaran RI-RDTL |
| - |
Bukan Jadi Lawan Tanding |
| + |
Bangun Kembali Budaya NTT |
| - |
Warisan Bagi Anak Cucu |
| + |
Bangun Kembali Budaya NTT |
| - |
Warisan Bagi Anak Cucu |
|
OPINI
|
Kamis, 31 Jul 2008, | 405
(Perbatasan, garis-garis batas dan kepemilikan di Laut Timor) Perairan yang Membingungkan (1)
|
|
|
Oleh: A. G. Hadzarmawit Netti *)
Ketika membaca buku TROUBLED waters, saya temukan cukup banyak penjelasan yang rancu dan tidak akurat mulai dari halaman 6-8; 22-27; 41-43; 108-112; 116-118 dan beberapa halaman lain lagi.Catatan Pengantar
Pada bulan Februari 2006 (dua tahun yang lalu), saya memperoleh sebuah buku karya Ruth Balint berjudul, TROUBLED waters—Borders, boundaries and possession in the Timor Sea dari salah seorang sahabat saya, Anita Robbins, yang tinggal di Melbourne, Australia.
Bagi beberapa orang dan pihak tertentu di Kupang, ibu kota Provinsi NTT, buku ini dinilai sangat berbobot dan dapat dijadikan sebagai pegangan untuk “merebut” Pulau Pasir (Ashmore Reef) dari Australia.
Ruth Balint belajar sejarah pada Universitas Sydney. Pada tahun 2001, antara tanggal 20 dan 30 Mei, Ruth Balint dan Max Bourke melakukan kunjungan ke Papela, Kecamatan Rote Timur di Pulau Rote. Di sana, keduanya melakukan wawancara dengan nelayan-nelayan tradisional yang setiap tahun lazim berlayar ke perairan Pulau Pasir dan sekitarnya untuk mencari lola, teripang, sirip ikan hiu dan sebagainya.
Wawancara tersebut dilakukan dalam rangka pembuatan film Troubled Waters, yang mengisahkan penderitaan dan kebingungan nelayan tradisional Papela yang berulang kali ditangkap petugas pengamanan perairan Australia, lantaran para nelayan dipergoki memasuki dan mengambil hasil-hasil laut secara ilegal di perairan Australia. Para nelayan yang ditangkap tersebut kemudian diadili di pengadilan Australia sebelum dideportasi ke Indonesia dan dipulangkan ke daerah asal mereka. Film Troubled Waters yang digarap oleh Ruth Balint itu berhasil memenangkan “Dandy Best Documentary Award” tahun 2002 di Australia. Sebuah prestasi yang luar biasa!
Dalam perkembangan selanjutnya, Ruth Balint mengolah materi film Troubled Waters menjadi sebuah tesis sejarah untuk meraih gelar Ph.D. Setelah itu, tesis Ph.D tersebut dijadikan manuskrip buku berjudul TROUBLED waters—Borders, boundaries and possession in the Timor Sea, yang diterbitkan oleh Allen & Unwin 83 Alexander Street Crows Nest NSW 2065 Australia pada tahun 2005. Buku ini merupakan buku terlaris dan berhasil meraih “The Australian/Vogel Winner Literary Award”. Sekali lagi, sebuah prestasi yang luar biasa!
Secara keseluruhan, buku TROUBLED waters yang berukuran 13x19,5 sentimeter dan tebal 1,5 sentimeter itu berisi 204 halaman yang dapat dirinci sebagai berikut: (1) bagian pelengkap pendahuluan atau halaman-halaman pendahuluan, “Acknowledgement, Map, Prologue” sebanyak enam belas (xvi) halaman; (2) bagian tubuh karangan mulai dari “Introduction” sampai dengan bab tentang “Fortress Australia: Border protection in the Timor Sea” sebanyak 149 halaman; (3) bagian “Epilogue” dan bagian pelengkap akhir karangan yaitu “Notes, Select Bibliography, Index” sebanyak 39 halaman, yang dimulai dari halaman 150 sampai halaman 188. Dengan demikian, buku TROUBLED waters berisi 204 halaman—bukan 187 halaman seperti kata Ir. Yusuf Leonard Henuk, M.Rur.Sc, Ph.D (“Pulau Pasir Milik Indonesia”. Timex edisi Selasa, 21 November 2006).
Buku ini pun luar biasa istimewanya! Paparan dalam buku ini ditunjang dengan 260 catatan referensi dari kepustakaan sebanyak 116 buah buku. Ini menunjukkan, betapa bernasnya isi buku ini, karena itu mustahil terdapat penjelasan/uraian-uraian yang salah. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Prof.Dr. Mia Noach dan Dr. Yusuf L. Henuk dengan judul, Perairan Sengketa—Batas tapal batas dan hak milik di Laut Timor dan diterbitkan oleh Penerbit PT. Grafika Timor Idaman Kupang (tanpa tahun penerbitan!), namun yang pasti diterbitkan dalam tahun 2008.
Marginalia Pertama
Ketika membaca buku TROUBLED waters, saya temukan cukup banyak penjelasan yang rancu dan tidak akurat mulai dari halaman 6-8; 22-27; 41-43; 108-112; 116-118 dan beberapa halaman lain lagi. Pada mulanya saya heran, mengapa karya ilmiah seorang yang bergelar Ph.D dari Universitas Sydney, Australia, terdapat begitu banyak penjelasan yang rancu dan tidak akurat. Setelah mencermati “Select Bibliography” (Kepustakaan Pilihan) sebagaimana tercantum pada halaman 172-181, saya simpulkan bahwa penjelasan-penjelasan yang rancu dan tidak akurat itu terjadi karena faktor referensi yang tidak sahih dan faktor interpretasi penulis yang tidak objektif atas informasi-informasi yang dihimpunnya. Berikut ini saya akan kemukakan beberapa kerancuan dan ketidak-akuratan uraian/penjelasan yang saya maksudkan itu.
(1) Dalam buku TROUBLED waters halaman 6-8 Ruth Balint merujuk kisah sebagai berikut: “Mary Bryant, for example, a convict in the First Fleet, together with her husband, two children and seven others stole a boat and sailed it all the way from Port Jackson via Gulf of Carpentaria to Kupang across the Timor Sea.” Penggalan kisah ini diterjemahkan oleh Mia Noach dan Yusuf L. Henuk sebagai berikut: “Mary Bryant misalnya, seorang pekerja paksa dalam armada pertama, bersama-sama dengan suaminya dan dua orang anak serta tujuh orang lainnya mencuri sebuah perahu dan berlayar dari Port Jackson melalui Teluk Carpentaria melintasi Laut Timor ke Kupang.” Catatan koreksi: kata “a convict” yang diterjemahkan “seorang pekerja paksa”, tidak benar. Kata “a convict” seharusnya diterjemahkan “seorang hukuman” atau “nara pidana”.
Kisah yang dikemukakan oleh Ruth Balint itu merupakan kisah yang dibuat-buat. Sejarawan terkemuka Australia, Frank Clune, yang menulis 41 buah buku antara tahun 1939-1955 mengatakan: “In January 1788 the ‘First Fleet’ of British colonists settled at Sydney Cove, commanded by Commodore Arthur Phillip, R.N., as Governor-in-Chief” (Overland Telegraph, The Story of a Great Australian Achievement and the Link Between Adelaide and Port Darwin.
Angus And Robertson Sydney 1955:19). “Pada bulan Januari 1788 Armada Pertama penduduk baru orang Inggris tinggal di teluk kecil Sydney, dipimpin oleh Komodor Arthur Phillip, R.N., sebagai Gubernur Tertinggi.”
Armada pertama penduduk baru orang Inggris yang tinggal di teluk kecil Sydney itu terdiri atas garnisun (pasukan yang ditempatkan di dalam suatu kota), pegawai-pegawai pemerintah, teknisi, dokter dan perawat, tenaga-tenaga ahli yang bertugas melakukan survei, dan sejumlah nara pidana atau orang-orang hukuman laki-laki yang diandalkan sebagai pekerja tangguh untuk membangun perkampungan, perkebunan, jalan raya, dan pekerjaan-pekerjaan berat lainnya. Para nara pidana itu tidak beristeri.
Dan tidak ada nara pidana perempuan beserta suami dan anak-anaknya. Dengan demikian, sangat omong kosong bila dikatakan bahwa ada seorang pekerja paksa perempuan dari armada pertama bersama suaminya dan dua orang anak serta tujuh orang lainnya mencuri sebuah perahu dan berlayar dari Port Jackson melalui teluk Carpentaria, kemudian melintasi Laut Timor ke Kupang.
Di samping itu, tidak mungkin nara pidana yang bukan pelaut berpengalaman dalam pelayaran dapat melayarkan perahu dari teluk kecil Sydney di bagian selatan benua Australia menuju utara ke Cape York kemudian melintasi Gulf of Carpentaria, Cape Arnhem, Cape Wilberforce, perairan Port Essington, perairan Melville Island, setelah itu melewati perairan Port Darwin, lalu menyeberangi Laut Timor hingga sampai di Pelabuhan Kupang.
Selain itu, apa yang mereka makan dan minum selama pelayaran dari teluk kecil Sydney sampai ke Pelabuhan Kupang? Bukalah peta, dan lihat rute pelayaran tahun 1788—1872 yang harus ditempuh antara perairan teluk kecil Sydney sampai pelabuhan Kupang (Frank Clune. Ditto. hlm.240).
(2) Mengenai Matthew Flinders dan Nicolas Baudin, Ruth Balint menjelaskan sebagai berikut: “More famously, the two European navigators Matthew Flinders and Nicolas Baudin, while on their mission to trace the contour and shape of the Australian continent, likewise viewed the Timor Sea as an avenue of retreat from the inhospitable waters of the north to the Dutch port of Kupang”, yang oleh Mia Noach dan Henuk diterjemahkan: “Yang lebih terkenal adalah kedua pelaut Eropa, Matthew Flinders dan Nicolaus Baudin yang dalam misi mereka menapaki kontur (garis-garis luar) dan bentuk benua Australia, memandang Laut Timor sebagai jalan keluar ke pelabuhan Belanda-Kupang, menghindari perairan-perairan yang tak bersahabat”.
Catatan koreksi: frasa “to trace the contour and shape of the Australian continent” yang diterjemahkan “menapaki kontur (garis-garis luar) dan bentuk benua Australia”, adalah terjemahan yang kurang jelas. Frasa itu sebaiknya diterjemahkan: “membuat garis besar atau menandai garis bentuk pantai, gunung, dll., serta bentuk benua Australia”. Penjelasan Ruth Balint sebagaimana dikutip di atas ini salah, dan memberi kesan seolah-olah Nicholas Baudin dan Matthew Flinders bekerja sama dalam satu misi eksplorasi.
Nicholas Baudin adalah seorang Komodor (perwira) Angkatan Laut Prancis yang memimpin dua kapal laut, Geographe dan Naturaliste, yang diperlengkapi dengan baik dan berlayar dari Le Harve pada bulan Oktober 1800 guna melakukan eksplorasi secara ekstensif untuk memetakan pantai-pantai dan daratan-daratan bagian selatan, barat dan utara bumi Australia (Terra Australis), alias New Holland, alias New South Wales.
Setelah melaksanakan tugas eksplorasi selama tiga tahun, kapal Georgaphe—yang di atasnya Nicholas Baudin melaksanakan tugasnya—berlabuh di Port Essington di semenanjung Coburg, di bagian utara benua Australia pada bulan Juni 1803. Di Port Essington, Nicholas Baudin terserang penyakit haemorrhage dan meninggal dunia (Frank Clune, Ibid. 1955:24).
Sedangkan Matthew Flinders adalah seorang perwira Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang memimpin kapal perang, H.M.S. Xenophon yang dinamai ulang dengan nama Investigator, yang pada bulan Juli 1801 berlayar dari Inggris menuju ke benua Australia guna melakukan survey kelautan dan pemetaan pesisir benua Australia, sekaligus memata-matai dan mengawasi kegiatan yang dilakukan oleh Nicholas Baudin.
Pemerintah kerajaan Inggris Raya yang telah membentuk koloni di Terra Australis bagian selatan pada tahun 1788 menyadari benar akan ekspedisi Prancis yang dipimpin Nicholas Baudin sebagaimana dijelaskan di atas—teristimewa ketika Kapten Philip Gidley King, R.N., menjadi Gubernur New South Wales pada tanggal 28 September 1800. Demi keunggulan dan kehormatan Kerajaan Inggris Raya, penguasa Kerajaan Inggris tidak sudi membiarkan Prancis memperoleh kesempatan untuk membentuk koloni di benua Australia bagian manapun.
Atas dasar pertimbangan inilah Matthew Flinders memimpin kapal perang H.M.S Xenophon yang diubah namanya menjadi Investigator berlayar ke Terra Australis pada Bulan Juli 1801 untuk membayang-bayangi dan menghambat ekspedisi Nicholas Baudin (Ibid. hlm.22).
(3) Selanjutnya, Ruth Balint mengisahkan: “In Februari 1802, as the Investigator navigated a narrow path between the main land and a smattering of high, offshore islands, they suddenly rounded on six ‘vessels covered like hulks’, lying at anchor in a small bay surrounded by a scattering of canoes.
The chief of the six crews was a small, elderly man called Pobassoo… These vessels were in fact part of a massive fleet of some 60 boats and 1000 men that had sailed from Makassar in the Celebes to northern Australia with the powerful northwest monsoon” (ditto. hlm.7). Penggalan kisah ini diterjemahkan Mia Noach dan Henuk sebagai berikut: “Pada bulan Februari 1802, ketika Investigator berlayar melalui suatu lorong antara Benua Australia dan serangkaian pulau-pulau kecil lepas pantai, mereka tiba-tiba melihat enam perahu yang berlabuh di sebuah teluk kecil dan disekelilinginya ada sejumlah sampan.
Kepala dari keenam anak buah kapal ini adalah seorang yang agak tua dan berperawakan kecil bernama Pobassoo… Perahu-perahu itu merupakan bagian dari suatu armada yang besar terdiri dari 60 perahu dan 1000 anak buah yang berlayar dari Makassar di Pulau Sulawesi ke Australia utara di bawah tiupan angin musim barat laut.”
Penggalan kisah sebagaimana dikutip di atas ini pun rancu dan salah, sekalipun Ruth Balint menyebutkan buku Matthew Flinders berjudul A Voyage to Terra Australis (London. 1814:172). Saya berkesimpulan bahwa penggalan kisah di atas Ruth Balint kutip dari sumber lain yang bersifat epigon yang salah.
Sejarawan Australia Frank Clune yang menulis buku Last of the Australian Explorers (Sydney 1942), The Forlorn Hope (Melbourne 1945), Roaming Round Australia (Melbourne 1947), Land of Australia (Melbourne 1953), mengisahkan tentang pengalaman Matthew Flinders berjumpa dengan nelayan-nelayan Makassar dan juragan tertua, Pobassoo, yang menjadi pemimpin para nelayan, yang Matthew Flinders sebut “the admiral of the Malay fleet” (=admiral armada Melayu), sebagai berikut: “After rounding Cape Wilberforce—which he named—Flinders saw a remarkable sight. A feet of sixty Macassar praus was cruising in the lee of the Wessel Islands offshore manned by Malays. Under flag of truce, six of the Malays captains come on board the Invertigator and were hospitably entertained. The ship’s cook was a Malay, and acted as interpreter. The admiral of the Malay fleet, ‘a short elder man named Pobassoo’ explained that the praus had come from Celebes in quest of trepang, the succulent sea-slug so highly esteemed by Chinese gourmets. There were over 1000 men on the sixty ships” (Ibid. hlm.23).
“Setelah mengitari Tanjung Wilberforce—yang ia namai—Flinders menyaksikan sebuah pemandangan yang luar biasa. Suatu armada dari enam puluh perahu Makassar yang dipenuhi orang-orang Melayu sedang menjelajah di keteduhan lepas pantai Wessel Islands. Di bawah bendera perdamaian, enam orang juragan (kapten) Melayu naik ke atas kapal Invertigator dan dijamu dengan penuh keramahan. Jurumasak (koki) kapal adalah seorang Melayu, dan bertindak sebagai jurubahasa.
Pemimpin armada Melayu adalah ‘seorang laki-laki tua berperawakan pendek bernama Pobassoo’ menjelaskan bahwa perahu-perahu itu datang dari Selebes untuk mencari teripang, siput laut ‘sea-slug’ yang lezat, yang dihargai sangat tinggi oleh ahli-ahli pencicip makanan orang Cina. Ada 1000 orang lebih di enam puluh perahu itu.” Inilah kesaksian dari Matthew Flinders dalam bukunya, A Voyage to Terra Australis, yang dikutip oleh Frank Clune.
Perlu dijelaskan pula bahwa perjumpaan antara Matthew Flinders dengan Pobasso dan nelayan-nelayan Makassar itu bukan terjadi pada bulan Februari 1802 sebagaimana dikemukakan oleh Ruth Balint, melainkan sesudah bulan Februari 1803, karena dari bulan November 1802 sampai bulan Februari 1803 Flinders bersama kapal Investigator masih melakukan eksplorasi di Teluk Carpentaria (“Flinders remained four month in the ‘gulph’ of Carpentaria, from November 1802 until Februari 1803”).
Setelah berlayar dari Teluk Carpentaria ke bagian utara menuju Tanjung Arnhem dan mengitari Tanjung Wilberforce, barulah Flinders berjumpa dengan nelayan-nelayan Makassar yang dipimpin oleh Pobassoo. Dan setelah perjumpaan yang sangat mengesankan itu, Flinders melanjutkan pelayaran ke Kupang untuk mengambil perbekalan, kemudian berlayar kembali ke Sydney via Cape Leeuin dan Bass Strait tanpa melakukan kegiatan eksplorasi lebih lanjut. Ia tiba di Sydney pada tanggal 9 Juni 1803 ( Ibid. hlm.24). (Bersambung)
*) Penulis Tinggal di Kupang
|
|