LAPORAN: Arsyad Hakim
EMPAT siswi SMP dan SMK di Kota Makassar, nyaris menjadi korban sindikat perdagangan wanita muda. Janji Mbak Wati (tersangka yang masih buron) akan mempekerjakan mereka di tempat baik-baik di T WAJAH Nur Syahruni Octavia (15), Ita Merdekawati (16), Syafrida Yakula (14), dan Nurfaidah (16), terlihat ceria saat ditemui di Mapolsekta Mariso, Kamis 8 Juni, kemarin. Keceriaan wanita muda itu, wajar sebab keempat gadis ABG beralamat di Jl Baji Pangaseng dan Baji Pasa're ini, terbebas dari sindikat perdagangan wanita muda yang hendak membawanya ke Timika.
Rencananya, keempatnya akan berangkat, Kamis, kemarin, menggunakan pesawat. Tapi rencana itu berubah karena kiriman dana dari Timika belum diterima mbak Wati.
"Awalnya, kami dijanjikan pekerjaan baik-baik di sana. Hanya cuci piring di restoran. Tapi setelah berada di Wisma Turatea Jl Kasuari, tempat kos mbak Wati, ceritanya berubah. Di Timika, kami akan dipekerjakan di bar. Mbak Wati juga mengajarkan berdandan seksi. Ia juga menyuruh kami suntik KB sebelum berangkat," tutur Nur Syahruni, satu dari empat ABG saat menceritakan pengalamannya.
Sontak saja, setelah mendengar penuturan mbak Wati, mereka semua menolak. Tapi sial sebab saat hendak meninggalkan wisma di Jl Kasuari itu, mereka tak diizinkan oleh mbak Wati. Selain itu, wisma dijaga ketat sehingga mereka tak bisa lolos.
Bagaimana sampai keempat ABG berteman dan masih tetangga itu, nyaris terjerat sindikat? Syamsia alias Dg Cia (49) warga Maccini Sombala, secara mengisahkan, pekan lalu, ia ditemui mbak Wati bersama seorang wanita muda mengaku, bernama Nia.
Saat bertandang ke rumahnya di Maccini Sombala, keduanya bermaksud hendak meminjam uang untuk menopang usaha katering yang dikelolanya. Tapi karena koperasi sudah tutup buku, sehingga tak bisa membantunya.
"Saya kenal mbak Wati karena pernah bertetangga di Jl Kasuari. Tapi soal pekerjaan, saya tidak mengetahuinya," tandasnya. "Saya juga tak mengetahui asal-usulnya," tambahnya.
Dalam pertemuan pekan lalu itu, Wati sempat menyampaikan kalau ia sedang mencari wanita muda untuk dipekerjakan di Timika. Tapi ketika itu, Wati menyampaikan wanita yang direkrutnya akan dipekerjakan di tempat baik-baik. Misalnya, di restoran atau di toko-toko.
"Saya hanya bilang, nantilah saya hubungi kalau ada anak-anak yang mencari kerja," ujar IRT yang menyalurkan uang berbunga ini saat ditemui, kemarin.
Ibarat gayuh bersambut, esoknya, Suryati alias Ati (48) datang ke rumahnya. Tujuannya, juga hendak meminjam uang koperasi. Saat itulah kedua ibu rumah tangga ini (Syamsia dan Suryati) terlibat percakapan serius. Awalnya, Syamsia menceritakan, kalau ada temannya bernama mbak Wati, mencari wanita muda yang akan dipekerjakan di Timika.
Tampa pikir panjang, Suryati yang suaminya tak memiliki pekerjaan tetap dan sakit-sakitan, langsung menangkap peluang dipelupuk matanya itu. Apalagi, semua biaya ditanggung mbak Wati, plus uang saku Rp1 juta.
Sepulang ke rumahnya, Suryati menyampaikan ke Nurfaidah (16) anaknya, yang baru duduk di kelas dua SMP. Awalnya, anaknya setuju saja ke Timika sepanjang ibunya mengizinkan.
Rencana ke Timika itu, kemudian diceritakan Nurfaidah ke teman dekatnya yang juga masih tinggal bertetangga. Tahu-tahunya, tiga rekannya, ternyata tertarik juga ke Timika. Sampai kemudian, ketiganya kabur dari rumah.
Ketiga rekannya itu, kabur, Rabu 7 Juni, pagi. Mereka berada di rumah mbak Wati sekitar pukul 12.00 Wita. Menariknya, saat itu, Syafrida rekannya yang mengajak, ternyata tidak berada di tempat tersebut. Belakangan diketahui jika Syafrida batal berangkat karena tak setuju dengan pekerjaan yang ditawarkan di bar. Sedangkan tiga rekannya, telanjur dalam penguasaan mbak Wati.
Dengan kaburnya tiga ABG dari rumahnya, membuat keluarganya panik. Setelah itu, mereka melakukan pencarian hingga kemudian mendapat informasi kalau anak-anak tersebut, hendak ke Timika diajak mbak Wati.
Belakangan keluarga calon korban trafficking mendapatkan informasi mbak Wati tinggal di wisma Turatea. Mereka pun bergegas ke wisma tersebut, Kamis dinihari.
Ternyata benar adanya, ketiga gadis ABG yang kabur dari rumahnya itu, ditemukan tertidur di salah satu kamar di wisma tersebut. Orang yang akan membawanya ke Timika (mbak Wati) juga ditemukan.
Tak menerima anak-anak mereka yang terbilang masih ingusan itu hendak dibawa tanpa sepengetahuan keluarganya, sampai kemudian terjadi keributan di wisma itu. "Awalnya kita mengira keributan biasa. Karena laporan yang masuk adalah perang kelompok," kata Kapolsekta Mariso, AKP Handoyo SIK.
Nanti setelah tiba di lokasi, baru petugas mengetahui kalau kasusnya bukan keributan biasa. Tapi terkait sindikat perdagangan wanita. "Sayangnya sebab tersangkanya lolos," tambahnya.
Kapolsekta mengaku, tak mengetahui persis bagaimana Wati yang bertubuh tambun itu, tiba-tiba bisa lolos padahal, keluarga korban sempat mengamankannya. "Mungkin ada yang menyelamatkan, mengingat di wisma itu, banyak kamar," katanya.
Dalam kasus ini sambungnya, Dg Cia dan Suryati masih berstatus saksi. Tersangkanya adalah mbak Wati yang kini masih buron. "Kalau Wati sudah tertangkap, baru kita bisa mengetahui, apakah Cia dan Suryati memperoleh keuntungan ataukah tidak. Kalau mereka memperoleh keuntungan, otomatis mereka jadi tersagka sebab masuk sindikat," katanya.
Sampai siang kemarin, keempat siswa yang nyaris menjadi korban trafficking itu, masih menjalani pemeriksaan di Mapolsekta Mariso. Demikian halnya dengan Dg Cia dan Suryati. (*)
|