Rubrik Berita
Dr. Klenik
| + |
DPD Desak Kemhut Surati Gubernur |
| - |
Sekali-kali Dipaksa Boleh Dong |
| + |
YMTM Terima Equator Prize |
| - |
Yang Lain Cuma Eksploitasi Kemiskinan |
| + |
Warga Dideadline Lima Hari |
| - |
Begitulah Nasib Orang Kecil |
|
RAKYAT SUROSA
|
Kamis, 13 Mar 2008, | 1160
Pernik Gempa Dahsyat di Yogyakarta
|
|
|
* "Rintihan dan Tawa Genit di Antara Puing"
YOGYAKARTA sudah menjadi kota yang serba komplit. Bukan lagi sekadar Daerah Istimewa dengan pemerintahan berbentuk kerajaan yang serba kaku. Di tengah puing pun masih terdeMALAM di akhir pekan lalu, penulis berdua ditemani Supriadi (alumni Arkeologi Unhas yang sedang mengikuti program Pascasarjana Arkeologi di Universitas Gajah Mada) melepas lelah sambil bernostalgia di salah satu kafe yang berada di Jl Sosrowijayan, tepat di jantung Yogyakarta.
Hanya sepelemparan batu dari tempat kami, denyut kehidupan Yogyakarta tetap berjalan normal. Tepatnya di Jl Pasar Kembang atau akrab disebut 'Sarkem'. Ini bukan pasar biasa di mana masyarakat melakukan transaksi untuk keperluan sehari-hari.
Tapi 'pasar' yang satu ini lebih identik dengan prostitusi. Di 'kawasan hitam' ini roda hidup tetap seperti hari-hari sebelum gempa meluluhlantakkan Yogya dan sekitarnya.
Hampir seluruh kafe di sepanjang jalan yang selalu dijejali bule'-bule' ini tetap buka. Kamar-kamr hotel, wisma, dan sejenisnya, tetap 'sold out'. "Maaf, kamar kami penuh". Pesan seperti ini terpampang di hampir semua lokasi hunian sewaan kala malam menjelang dini.
Kembali ke Sarkem. Gempa ibarat 'kentut' di wilayah tak kurang dari 10 ribu meter persegi ini. Terdengar, berbau, tapi tak terlihat dan sama sekali tak mengganggu aktivitas warga setempat. Sekali lagi, tak ada yang merasa terganggu. Anda bebas 'memilih' sesuai dengan pilihan hati nurani dan jangkauan rupiah yang ada di kantong.
Di Sarkem, semua malam dan siang dilalui seperti hari-hari sebelum, Sabtu Wage 27 Mei. Lorong-lorong sempit tetap dijejali lelaki hidung belang. Perempuan-perempuan muda tetap asyik bercanda dengan penghuni lainnya atau dengan tetamu yang tak kalah binalnya.
Lorong-lorong sempit Sarkem memang 'menawarkan' sisi lain dari kota Yogya. Sarkem yang penuh tawa cekikan dari mulut perempuan-perempuan belasan tahun bertarif Rp150 ribu-Rp250 ribu per short time (satu jam). Dan di ujung gang, berdiri perempuan-perempuan setengah baya dengan dandanan sedikit menor.
"Yang kena gempa kan cuma di sekitar Bantul saja toh mas, jadi yang di sini aman-aman saja," kata Sulastri (20), penghuni salah satu lorong di kawasan Sarkem, saat jarum jam menunjukkan 02.30 dini hari.
Sulastri dan sekitar 250 temannya yang ada di Pasar Kembang sedang berusaha mengais sedikit rezeki tambahan pascagempa. Apalagi banyak relawan dari mancanegara dan domestik yang memilih menginap di sekitar Sarkem.
Di waktu-waktu normal, kawasan ini dikenal jadi salah satu sasaran turis-turis asing untuk bersantai. Selain terkenal dengan keramahannya, berbagai macam jajanan juga sangat murah.
Supriadi sempat berpesan kepada kami berdua agar tak membandingkan 'harga' di tempat ini dengan nilai barang di Makassar. "Sangat jauh berbeda," kata dia.
Masih di Sarkem. Berbeda dengan 'Nusantara' yang ada di Makassar, para perempuan-perempuan Sarkem tetap hidup di rumah-rumah sederhana. Bahkan, tak jarang dari mereka yang hidup seatap dengan orang tua, adik, ataupun sanak saudara lainnya.
Sebagian pekerja seks lainnya, berasal dari luar kota yang mengais rezeki di tempat tersebut. PSK dari luar, hanya dikenakan pembayaran kamar jika melayani tamu. Menariknya lagi, sebab di kawasan tersebut, tak hanya masyarakat biasa saja yang 'memelihara' PSK. Tapi, diduga di rumah Ketua RT dan RW pun juga menyiapkan kamar dan wanita pekerja seks komersial.
Untuk memasuki Sarkem, sangat mudah. Apalagi, ratusan abang becak yang biasa mangkal di seputaran Malioboro sudah hapal dengan lekuk-lekuk tempat ini. Sebut saja, Sadli (42) yang berasal dari Bantul. Sudah lima tahun Sadli mangkal di Sosro dan kawasan Sarkem dengan profesi sebagai abang becak.
Sadli siap menjadi guide yang baik. Setiap saat, sehari semalam. Dia sangat paham lika-liku Sarkem. Mulai dari tarif hingga tempat-tempat yang eksotik lain selain Sarkem. Sadli juga tahu tarif-tarif kamar penginapan, baik harga transit maupun semalam.
Di Yogya, Sadli tak sendiri. Hampir seluruh abang becak yang biasa mangkal di tempat ini mampu berfungsi ganda sebagai guide. Sekali mutar-mutar, ia menarik bayaran antara belasan ribu hingga Rp50 ribu. Tergantung dari rute dan lama menunggu.
* Gadis Akuarium
Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisatawan kedua setelah Pulau Bali, memang menawarkan sejuta pesonanya. Termasuk pesona seksnya. Selain Sarkem, masih terdapat beberapa lokasi lainnya. Lokasi lain itu, sering diistilahkan oleh warga setempat "gadis akuarium".
Mengapa? Sadly, penarik becak yang mengantar kami keliling malam itu, menceritakan seluruh liku-liku kehidupan seks di Yogya, dari A sampai Z. Sebutan gadis akuarium, sambung Sadli, sebab pekerja seks di tempat itu, dipajang seperti ikan hias di akuarium.
Lokasi ini, tak jauh beda dengan prostitusi di Jl Nusantara, Makassar. Yang membedakan, hanya soal tarif dan wanita-wanitanya yang masih muda. Satu catatan lainnya, gadis akuarium maupun gadis etalase yang dipajang, tak suka kencan dengan pria hidung belang berbau alkohol. Alasannya, mereka enggan mengambil resiko sebab tamu yang mabuk kadang macam-macam permintaannya.
"Maaf, besok malam saja mas datang," ujar seorang gadis akuarium saat menolak tamunya secara halus. Pramuria berambut panjang itu, belakangan diketahui bernama, Lina (19) bukan nama sebenarnya. (***)
Buyung Maksum-Arsyad Hakim
|
|