Rubrik Berita
Dr. Klenik
| + |
DPD Desak Kemhut Surati Gubernur |
| - |
Sekali-kali Dipaksa Boleh Dong |
| + |
YMTM Terima Equator Prize |
| - |
Yang Lain Cuma Eksploitasi Kemiskinan |
| + |
Warga Dideadline Lima Hari |
| - |
Begitulah Nasib Orang Kecil |
|
RAKYAT SUROSA
|
Kamis, 13 Mar 2008, | 526
Berbagi Cerita dari Sakai, Jepang (2)
|
|
|
* Dari Sampah Menjadi Duit dan Sehat
TIDAK ada yang terbuang dan tak termanfaatkan. Habis dipakai, tetap berguna. Itu prinsip orang Jepang. Malah sesuatu yang terkadang sudah dianggap tak bermanfaat, ternyata dapatSAMPAH tak mesti dibuang di pinggiran kota yang jauh dari kepadatan penduduk. Sampah, ternyata dapat dibuang di tengah perumahan penduduk yang padat dan ramai. Masyarakat Sakai City, misalnya, telah melakukan itu. Malah mereka telah mengolah sampah sedemikian rupa, sehingga menjadi penghasilan tambahan bagi pemerintah. Buang jauh-jauh anggapan bahwa bau tidak sedap akan menangkupi wilayah tersebut.
Letaknya di Higashi No 2 Incineration Plant, 1-102 Ishihara-cho, Sakai. Dari luar terlihat sebagai gedung biasa namun cukup luas. Aktivitas mobil pengangkut sampah juga biasa. Gedung itu sangat sepi. Memang aktivitas yang berlangsung di dalam gedung itu sepi. Namun siapa sangka, itulah salah satu tempat yang dapat menghasilkan yen bagi Sakai.
Begitu masuk ke pekarangan gedung, di sebelah kiri terlihat tumpukan rangka mobil dan velg ban yang untuk ukuran negara sedang berkembang masih sangat bagus. Tak jauh dari situ, terlihat tumpukan sepeda berbagai jenis yang sudah menggunung. Sepeda itu masih bagus. Masih sangat baru bila dipakai para loper koran keluar-masuk kompleks. Masih sangat lumayan bila dipakai para guru di pelosok untuk pergi-pulang sekolah. Yang jelas, kondisi sepeda itu sangat lumayan karena di Jepang masih dipergunakan beraktivitas sehari-hari. Masalahnya karena sepeda itu diparkir di sembarang tempat, kena denda, dan pemiliknya tidak mengambil dalam batas waktu yang ditentukan.
Di Jepang, denda hampir dua kali lipat dari harga sepeda itu sendiri. Makanya, sang pemilik lebih memilih ‘memasrahkan’ sepedanya dari pada membayar denda. Mereka pikir mending membeli sepeda baru dari pada menebus sepeda lama yang harganya dua kali lipat. Makanya, banyak sepeda bertumpuk di kantor penertiban kota. Bila sepeda tak diambil selama rentang waktu yang ditentukan, otomatis akan dibawa ke Sakai Clean Center untuk dikembalikan ke ‘asalnya’ --- menjadi besi mentah.
Soal pembuangan sampah, di Sakai ada pembagian waktunya. Juga ada pengelompokan sampah. Misalnya untuk kaleng dan botol, diangkut pada Senin. Sampah basah pada Selasa. Plastik, kertas, dan kayu pada Rabu. Tempat sampah juga sudah dibagi berdasarkan ketiga jenis sampah itu. Hal itu dimaksudkan agar sampah tersebut dapat diolah dan dipilah sesuai jenisnya.
Meskipun namanya tempat pembuangan akhir, jangan bayangkan akan menemukan sampah di gedung itu. Benar-benar bersih. Untuk menginjak lantai gedung berlantai tiga itu, mesti membuka alas kaki yang diletakkan tak jauh dari pintu masuk. Kalaupun menggunakan alas kaki, harus menggunakan alas kaki yang khusus disediakan Clean Center.
Sampah yang menggunung dapat dilihat dari ruang monitor (central control room). Dapat juga dilihat dari ruang pantau yang dibatasi kaca tebal. Ruang pantau itu terletak di atas bak sampah yang panjangnya 30 meter, lebar 15 meter, dan tinggi 30 meter. Di bak sampah itulah semua sampah Sakai diolah menjadi bahan dasar plastik, kayu, dan besi.
Sampah di Sakai, setiap hari sekitar 1.131 ton. Itu terhimpun dari penduduk yang berjumlah 842.449 jiwa (berdasarkan data 31 Desember 2005). Lantaran sampah dapat didaur ulang menjadi bahan baku plastik, kayu, dan besi serta diolah menjadi tenaga listrik, praktis sampah menjadi salah satu ‘kebutuhan’ pemerintah dan warga Sakai.
Di gedung Sakai Clean Center, pekerjanya tergolong sedikit. Cuma 40 orang. Termasuk pimpinan. Sebagian besar pekerjaan diambil alih mesin dan serba komputer. Di central control room, misalnya, hanya dijaga satu orang sementara ada 10 layar monitor yang ia hadapi. Tak ada cleaning service. Sebagian besar sudah berjalan dengan sendirinya. Pimpinan tinggal melakukan pengawasan sesekali, terkadang jalan-jalan keluar gedung sembari memunguti daun-daun yang gugur.
“Bila malam, tempat ini sepi sekali. Sangat lengang. Naik-turun lift seorang diri mengawasi semua unit sampah bekerja. Suara mesin di tengah malam sudah sangat akrab. Namanya saja berkerja di bidang sampah, kesannya seperti terbuang,” ujar Nikeri Suyamoto, kepala Sakai Clean Center bercanda.
* Duit dan Sehat
Tak jauh dari Clean Center, terdapat bangunan fitness gym yang sangat representatif dan berlantai tiga. Semua tenaga listrik di bangunan itu digerakkan oleh energi dari hasil olahan sampah. Tua-muda dengan penuh semangat melakukan fitness. Ada juga kolam air hangat untuk berenang dan berendam. Juga terdapat lapangan basket dan tenis yang bahan dasarnya dari sampah.
“Setiap hari ada sekitar 500 warga Sakai yang memanfaatkan fasilitas ini,” ujar Ano, instruktur senam di gym tersebut ramah. Untuk memanfaatkan fasilitas tersebut, mereka dikenakan tarif Y1.500 per orang. Berarti dalam sehari, fitness gym itu memasukkan Y750.000 (Rp63.750.000). Berapa pula pemasukan dalam setahun dengan memanfaatkan pengolahan sampah itu?
“Lantas, bagaimana sampah di Indonesia? Bagaimana sampah dikelola?” tanya seorang staf Sakai Clean Center.
Duh, pertanyaan itu membuat risih untuk menjawabnya. Terbayang sampah yang terus menggunung setiap hari dan untuk menguranginya terpaksa dilakukan dengan cara pembakaran atau membiarkan alam mengolahnya secara alami menjadi kompos. Terbayang tempat pembuangan sampah yang sudah menggunung di Kampung Cilimus, Batujajar, Kabupaten Bandung yang pada 21 Desember 2005 menewaskan 32 warga akibat longsor sampah. Terbayang TPA di Antang yang terbakar dan membuat beberapa pemulung menderita luka bakar.
Kami menjelaskan bahwa volume sampah di Makassar cukup banyak dalam sehari, yakni 3.500-3.900 meterkubik, dengan produksi sampah per orang sebanyak 2-3 liter per hari sehingga armada sampah kewalahan mengangkutnya.
Mendengar jumlah sampah setiap hari di Makassar, sepasang mata sipit orang Jepang itu membulat lantaran takjub. Ia mungkin membayangkan berapa energi yang dapat mereka hasilkan kalau sampah itu berada di negaranya.
Ketika ia bertanya sampah sebanyak itu diapakan, kami menjelaskan bahwa sampah di negara kami akan dikelola menjadi sebentuk energi untuk menyejahterakan masyarakat. Namun dalam hati buru-buru menjawab, itu entah kapan…. (@)
Nur Alim Djalil
|
|